TUGAS
KLIPING
KERAJAAN
KUTAI KERTANEGARA

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata
Pelajaran Sejarah Indonesia
Nama Kelompok :
1.
IQBAL SYAIMIMA
2.
AMRI NURUL SABILA
3.
SARAH AZAHRA
Kelas : X
IPS 3
PEMERINTAH KABUPATEN BREBES
DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
SMA
NEGERI 1 JATIBARANG
JL. Raya Karanglo Tegalwulung, Karanglo, Kec. Jatibarang, Kab. Brebes
Prov. Jawa Tengah, Kode Pos 52261
2019/2020
kerajaan
mataram kuno
A.
DINASTI SANJAYA
1. Kehidupan Politik
Berdasarkan prasasti
Metyasih, Rakai Watukumara Dyah Balitung (Wangsa Sanjaya ke-9) telah memberikan
hadiah tanah kepada 5 orang patihnya yang berjasa besar kepada Mataram. Dalam
prasasti Metyasih juga disebutkan raja-raja yang memerintah pada masa Dinasti
Sanjaya. Raja-raja itu adalah
a. Rakai Sri Mataram sang Ratu
Sanjaya (732-760 M)
Masa Sanjaya berkuasa adalah masa-masa pendirian candi-candi siwa di
Gunung Dieng. Sri Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya mangkat kira-kira pertengahan
abad ke-8 M. Ia digantikan oleh putranya Rakai Panangkaran.
b. Sri Maharaja Rakai
Panangkaran (760-780 M)\
Rakai Panangkaran yang berarti raja mulia yang berhasil mengambangkan
potensi wilayahnya. Menurut Prasati Kalasan, pada masa pemerintahan Rakai
Panangkaran dibangun sebuah candi yang bernama Candi Tara, yang didalamnya
tersimpang patung Dewi Tara. Terletak di Desa Kalasan, dan sekarang dikenal
dengan nama Candi Kalasan.
c. Sri Maharaja Rakai Panunggalan
(780-800 M)
Rakai Pananggalan yang berarti raja mulia yang peduli terhadap siklus
waktu. Beliau berjasa atas sistem kalender Jawa Kuno. Visi dan Misi Rakai
Panggalan yaitu selalu menjunjung tinggi arti penting ilmu pengetahuan.
Perwujudan dari visi dan misi tersebut yaitu Catur Guru. Catur Guru tersebut
adalah
Ø
Guru Sudarma, orang tua yang melairkan manusia.
Ø
Guru Swadaya, Tuhan
Ø
Guru Surasa, Bapak dan Ibu Guru di sekolah
Ø
Guru Wisesa, Pemerintah pembuat undang-undang untuk
kepentingan bersama
d.Sri Maharaja Rakai Warak (800-820 M)
Pada
masa pemerintahannya, kehidupan dalam dunia militer berkembang dengan pesat.
e.Sri Maharaja Rakai Garung (820-840 M)
Garung
memiliki arti raja mulia yang tahan banting terhadap segala macam rintangan.
Demi
memakmurkan rakyatnya, Sri Maharaja Rakai Garung bekerja siang hingga malam.
f.Sri Maharaja Rakai Pikatan
(840 – 856 M)
Dinasti Sanjaya
mengalami masa gemilang pada masa pemerintahan Rakai Pikatan.Pada masa
pemerintahannya, pasukan Balaputera Dewa menyerang wilayah kekuasaannya. Namun
Rakai Pikatan tetap mempertahankan kedaulatan negerinya dan bahkan pasukan
Balaputera Dewa dapat dipukul mundur dan melarikan diri ke Palembang.Pada zaman
Rakai Pikatan inilah dibangunnya Candi Prambanan dan Candi Roro Jonggrang.
g.Sri Maharaja Rakai Kayuwangi (856-882 M)
Prasasti Siwagraha
menyebutkan bahwa Sri Maharaja Rakai Kayuwangi memiliki gelar Sang Prabu Dyah
Lokapala.
h.Sri Maharaja Rakai Watuhumalang (882-899 M)
Sri Maharaja Rakai
Watuhumalang memiliki prinsip dalam menjalankan pemerintahannya. Prinsip yang
dipegangnya adalah Tri Parama Arta
i.Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitong (898-915 M)
Masa pemerintahannya
juga menjadi masa keemasan bagi Wangsa Sanjaya. Sang Prabu aktif mengolah cipta
karya untuk mengembangkan kemajuan masyarakatnya.
j. Sri Maharaja Rakai Daksottama (915 – 919 M)
Pada masa
pemerintahan Dyah Balitung, Daksottama dipersiapkan untuk menggantikannya
sebagai raja Mataram Hindu.
k. Sri Maharaja Dyah Tulodhong (919 – 921 M)
Rakai Dyah Tulodhong
mengabdikan dirinya kepada masyarakat menggantikan kepemimpinan Rakai
Daksottama. Keterangan tersebut termuat dalam Prasasti Poh Galuh yang berangka
tahun 809 M. Pada masa pemerintahannya, Dyah Tulodhong sangat
memperhatikan kaum brahmana
l. Sri Maharaja Dyah Wawa ( 921 – 928 M)
Beliau terkenal
sebagai raja yang ahli dalam berdiplomasi, sehingga sangat terkenal dalam
kancah politik internasional.
2. Kehidupan Sosial
Kehidupa sosial
masyarakat di kerajaan Mataram Kuno sudah teratur. Terlihat dari sikap gotong
oyong mereka saat membuat candi bersama. Sikap toleran diantara masyarakat
sangat baik. Terbukti dengan adanya dua aliran kepercayaan yang berbeda tetapi
mereka tetap bisa bersosialisasi.
3. Kehidupan Ekonomi
Perekonomian kerajaan
Mataram Kuno saat itu bertumpu pada sektor pertanian karena letaknya yang cukup
disebut sebagai pedalaman dan memiliki tanah yang subur. Berikutnya, Mataram
mulai mengembangkan kehidupan pelayaran, hal ini terjadi pada masa pemerintahan
Balitung yang memanfaatkan sungai Bengawan Solo sebagai lalu lintas perdagangan
menuju pantai utara Jawa Timur.
4. Kehidupan Agama
Berdasarkan prasasti
Canggal yang menceritakan tentang pendirian Lingga (lambang Siwa), dapat
ditarik kesimpulan bahwa masyarakat Mataram Kuno Wangsa Sanjaya memiliki
kepercayaan agama Hindu beraliran Siwa.
B. DINASTI
SYAILENDRA
1. Kehidupan
Politik
Berdasarkan
prasasti yang telah ditemukan dapat diketahui raja-raja yang pernah memerintah
Dinasti Syailendra, di antaranya:
1)
Bhanu
( 752- 775 M )
Raja banu
merupakan raja pertama sekaligus pendiri Wangsa Syailendra.
2)
Wisnu
( 775- 782 M)
Pada masa
pemerintahannya, Candi Brobudur mulai di banugun tempatnya 778.
3)
Indra
( 782 -812 M )
Pada masa
pemerintahannya, Raja Indra membuat Prasasti Klurak yang berangka tahun 782 M,
di daerah Prambanan. Dinasti Syailendra menjalankan politik ekspansi pada masa
pemerintahan Raja Indra. Perluasan wilayah ini ditujukan untuk menguasai
daerah-daerah di sekitar Selat Malaka. Selanjutnya, yang memperkokoh pengaruh
kekuasaan Syailendra terhadap Sriwijaya adalah karena Raja Indra menjalankan
perkawinan politik. Raja Indra mengawinkan putranya yang bernama Samarottungga
dengan putri Raja Sriwijaya.
4)
Samaratungga
( 812 – 833 M )
Pengganti Raja
Indra bernama Samarottungga. Raja Samaratungga berperan menjadi pengatur segala
dimensi kehidupan rakyatnya. Sebagai raja Mataram Budha, Samaratungga sangat
menghayati nilai agama dan budaya. Pada zaman kekuasaannya dibangun Candi
Borobudur. Namun sebelum pembangunan Candi Borobudur selesai, Raja
Samarottungga meninggal dan digantikan oleh putranya yang bernama Balaputra
Dewa yang merupakan anak dari selir.
5)
Pramodhawardhani
( 883 – 856 M )
Pramodhawardhani
adalah putri Samaratungga yang dikenal cerdas dan
cantik. Beliau bergelar Sri Kaluhunan, yang artinya seorang sekar keratin yang menjadi
tumpuan harapan bagi rakyat. Pramodhawardhani kelak menjdi permaisuri raja
Rakai Pikatan, Raja Mataram Kuno dari Wangsa Sanjaya.
6)
Balaputera Dewa ( 883 –
850 M )
Balaputera Dewa
adalah putera Raja Samaratungga dari ibunya yang bernama Dewi Tara, Puteri raja
Sriwijaya. Dari Prasasti Ratu Boko, terjadi perebutan tahta kerajaan oleh Rakai
Pikatan yang menjadi suami Pramodhawardhani. Belaputera Dewa merasa berhak mendapatkan
tahta tersebut karena beliau merupakan anak laki-laki berdarah Syailendra dan
tidak setuju terhadap tahta yang diberikan Rakai Pikatan yang keturunan
Sanjaya. Dalam peperangan saudara tersebut Balaputera Dewa mengalami kekalahan
dan melatrikan diri ke Palembang.
2. Kehidupan
Sosial
Kehidupan sosial
Kerajaan Syailendra tidak diketahui secara pasti. Namun, melalui bukti-bukti
peninggalan berupa candi-candi, para ahli menafsirkan bahwa kehidupan sosial
masyarakat Kerajaan Syailendra sudah teratur. Hal ini dilihat melalui cara
pembuatan candi yang menggunakan tenaga rakyat secara bergotong-royong. Di
samping itu, pembuatan candi ini menunjukkan betapa rakyat taat dan
mengkultuskan rajanya. Dengan adanya dua agama yang berjalan, sikap toleransi
antar pemeluk agama di masyarakat sangat baik.
3. Kehidupan
Ekonomi
Mata pencaharian
pokok masyarakat adalah petani, pedagang, dan pengrajin. Dinasti Syailendra
telah menetapkan pajak bagi masyarakat Mataram. Hal ini terbukti dari prasasti
Karang tengah yang menyebutkan bahwa Rakryan Patatpa Pu Palar mendirikan
bangunan suci dan memberikan tanah perdikan sebagai simbol masyarakat yang
patuh membayar pajak.
4. Kehidupan
Budaya / Agama
Sebagian besar
raja-raja Dinasti Syailendra beragama Budha Mahayana. Hal ini menunjukkan bahwa
agama Buddha telah masuk di Mataram. Dengan dibangunnya candi-candi Buddha
untuk beribadah, maka dapat disimpulkan pula bahwa rakyatnya beragama Buddha
Mahayana.
Peninggalan
Kerajaan Mataram Kuno
1. Candi Sewu

Candi sewu sendiri merupakan candi terbesar kedua di Jawa tengah setelah
candi Borobudur yang bercorak budha yang mana kerajaan Mataram kuno
membangunnya sekitar di abad 8 Masehi. Lokasinya berada di desa Bugisan,
kecamatan Prambanan, kabupaten klaten, Jawa tengah.
Ternyata candi ini letaknya sangat dekat dengan candi Prambanan yang jarak
kedua candi tersebut hanya sekitar 800 Meter.
Selain itu candi Sewu lebih tua dari dua candi yang ada di jawa tengah
(Candi Borobudur dan candi Prambanan). Hal yang unik dari candi Sewu adalah,
namanya tidak sesuai dengan jumlah candi sebenarnya, yang manaJumlah asli
candinya hanya sekitar 249 saja.
Bayangkan namanya sewu kalau diartikan ke bahasa Indonesia adalah seribu.
Usut punya usut ternyata candi ini berasal dari cerita legenda Roro Jonggrang.
2. Candi Arjuna

Berbeda dengan candi Sewu yang bercorak budha, candi Arjuna sendiri adalah
candi yang bercorak Hindu. Candi Arjuna dibangun pada abad 9 Masehi dan
Letaknya candi ini berada di Dataran tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa
Tengah, Indonesia.
Selain candi Arjuna di daerah tersebut juga ada candi lainnya seperti Candi
semar, Srikandi, Puntadewa, dan candi Sembadra. Kalau dilihat dari namanya
tersebut berarti masyarakat menamakannya dengan nama tokoh yang ada di
pewayangan.
3. Candi Bima

Candi bima ini juga terletak di daerah Dataran Tinggi Dieng tepatnya di
Banjarnegara, Jawa Tengah. Dibangun pada abad sekitar 7 sampai abad ke 13
Masehi. Candi ini bercorak Hindu, makanya desainnya pada umumnya terdapat
kesamaan dengan candi yang ada di negara India.
Karakteristik dari candi Bima adalah atapnya hampir sama dengan shikara dan
bermodelkan mangkok yang di telungkupkan. dan di di bagian atas terdapat arca
Kudu.
Pada zaman dahulu candi ini digunakan untuk upacara Pradaksina.
4. Candi Borobudur

Inilah candi Terbesar dan terkenal di dunia yang termasuk dari 7 keajaiban
dunia versi UNESCO. Candi ini adalah candi yang bercorak budha yang letaknya
ada di kota Magelang, Jawa tengah.
Pembuatannya sendiri dilakukan di masa dinasti Syailendra oleh pemeluk
Budha sekitar tahun 800-an atau abad 8 Masehi.
Asal mula Borobudur sendiri baru dinamai ketika Sir Thomas Raflles
menyebutnya di salah satu karya bukunya yang berjudul “Sejarah Pulau Jawa”.
Dalam bukunya tersebut Sir Thomas Raffles menamai Borobudur karena mengacu pada
tempat lokasi terdekat dengannya, yaitu desa Bore dan Budur dari kata Bhudhara
yang berarti gunung.
Candi Borobudur letaknya juga berdekatan dengan candi terkenal lainnya
yaitu candi Mendut dan Candi Pawon.
5. Candi Mendut

Selain candi Borobudur, Candi mendut juga termasuk candi yang bercorak
Budha. Letaknya sama dengan candi Borobudur yaitu daerah Magelang, Jawa Tengah.
Candi Mendut tersebut dibuat pada tahun 800-an Masehi ketika dinasti Syailendra
berkuasa tepatnya dibawah kekuasaannya Raja Indra.
Di sekitar dindingnya terdapat banyak sekali jenis
relief diantaranya adalah Brahmana, Hewan Angsa dan Kura-kura, Dharmabuddhi dan Dustabuddhi, dan 2 burung betet.
6. Candi Pawon

Candi lainnya yang juga letaknya berdekatan dengan candi Borobudur dan
Candi Mendut adalah candi Pawon. Sayangnya sejarah akan candi Pawon ini masih
simpang siur dan tidak jelas. Menurut beberapa para peneliti kata Pawon sendiri
berasal dari bahasa Jawa yang berarti dapur atau juga bisa tempat perabuan.
Selain itu juga di dalamnya candi tersebut tidak ada arca, kemungkinan
bertambah sulit lagi untuk menelitinya.
7. Candi Puntadewa

Candi ini satu daerah dengan candi Arjuna dan candi lainnya yang dinamakan
di pewayangan. Pada zaman dahulu candi ini digunakan untuk tempat pemujaan dewa
Siwa, tak salah jika coraknya berasal dari India.
Dalam sejarahnya candi ini juga tidak jelas asal-usulnya, namun berdasarkan
penelitian candi ini sudah berusia lebih dari 1000 tahun. Sebenarnya candi ini
tidak terlalu besar amat, hanya saja dia lebih menjulang ke atas.
8. Candi Semar

Candi ini juga berada dalam satu kawasan dengan candi nama pewayangan
lainnya seperti candi Arjuna tepatnya di Dataran Tinggi Dieng. Candi ini
termasuk juga candi Hindu Syiwa yang dibuat oleh kerajaan Mataram kuno.
Menariknya adalah candi ini berhadapan langsung dengan candi Arjuna.
Keunikan lainnya adalah candi ini yang paling pendek dan kecil, ukuran
candinya saja 3,5 m dan 7 m dengan atap yang berbentuk limas. Kegunaan dari
candi ini adalah sebagai tempat penyimpanan peralatan senjata dan pemujaan.
Komentar
Posting Komentar