MAKALAH
MENGENAI
PERSATUAN DAN KESATUAN
PADA
MASA DEMOKRASI LIBERAL
DIAJUKAN
UNTUK MEMNUHI TUGAS PELAJARAN PPKN
Nama
Kelompok (4):
1. DIO
ADAM BACHTIAR
2. EVI
ASTUTI
3. NUGI
ALFAJAR
4. RIZKY
SAKINAH P
Kelas
: XII IPS 1
PEMERINTAH
KABUPATEN BREBES
DINAS
PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
SMA NEGERI 1
JATIBARANG
JL. Raya Karanglo Tegalwulung, Karanglo, Kec. Jatibarang, Kab. Brebes
Prov. Jawa Tengah, Kode Pos 52261
2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada tuhan yang maha kuasa
dan terselesaikanya makalah yang berjudul Persatuan dan kesatuan bangsa pada
masa demokrasi liberal. Makalah yang masih perlu dikemangkan lebih jauh ini
diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang membacanya.Secara
garis besar makalah ini memuat latar belakang tentang persatuan dan kesatuan
bangsa pada masa demokrasi liberal(17 Agustus 1950 Sampai dengan 5 Juli 1959).
Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan, bimbingan dan
dorongan dari berbagai pihak. Penulis tidak mungkin menyelesaikan penyusunan makalah ini untuk itu ucapkan terimakasih penulis
ucapkan kepada semua pihak yang telah membantu. Penulisan sangat mengharapkan
keritik dan saran yang konstruktif agar makalah ini bermasalah bagi para
pembaca.
Brebes, Januari 2020
Penyusun
Tim Penyusun
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL .............................................................................. i
KATA PENGANTAR .......................................................................... ii
DAFTAR ISI........................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................... 1
A.
Latar belakang ....................................................................... 1
B.
Rumusan masalah ................................................................... 2
C.
Tujuan...................................................................................... 2
D.
Manfaat................................................................................... 2
BAB II
PEMBAHASAN........................................................................ 4
A.
Pengerian Demokrasi liberal................................................... 4
B.
Sejarah demokrasi liberal........................................................ 4
C.
Hal hal positif dan negatif selama
berlakunya sistem
demokasi liberal ..................................................................... 5
D.
Kehidupan Politik................................................................... 6
E.
Kehidupan Ekonomi............................................................... 10
F.
Kebijakan pemerintah untuk mengatasi masalah ekonomi
pada masa demokrasi liberal................................................... 11
G.
Kehidupan bidang pertahanan dan
keamanan........................ 15
H.
Akhir masa demokrasi liberal di
indonesia............................. 16
BAB III
PENUTUP .............................................................................. 18
A.
Kesimpulan ............................................................................. 18
B.
Saran ...................................................................................... 18
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ 19
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pada masa-masa awal kemerdekaan, Indonesia menerapkan berbagai macam sistem
pemerintahan dan yang paling mengemuka adalah sistem demokrasi liberal dan
demokrasi terpimpin. Indonesia memasuki masa demokrasi liberal pada awal
pengakuan kedaulatan,masa ini berlaku antara tahun 1950-1959. Masa demokrasi
liberal atau parlementer ditandai dengan tumbuh suburnya partai politik dan
berlakunya kabinet parlementer. Prestasi politik dan kemelut politik merupakan
hal yang terjadi pada masa demokrasi liberal. Prestasi politik berupa
pemberlakuan sistem multipartai dan penyelenggaraan pemilu yang demokratis. Kemelut
politik berupa kabinet yang silih berganti dan perdebatan berkepanjangan dalam konstituante.
Perjalanan sejarah Indonesia pada masa demokrasi liberal diwarnai
olehpemerintahan dengan tujuh masa kebinet yang berbeda. Sistem pemerintahan pada masademokrasi
liberal menetapkan bahwa kabinet-kabinet ini bertanggung jawab secara langsung
kepada parlemen. Kondisi Indonesia di
masa demokrasi liberal sangatlah rentan karenadalam kurun pemerintahan ketujuh
kabinet tersebut, kinerja kabinet sering mengalami deadlock dan ditentang oleh
parlemen. Hal tersebut terjadi karena
adanya kelompok oposisi yang kuat sehingga mengakibatkan timbulnya konflik
kepentingan dalam proses perumusandan pembuatan kebijakan negara.
Demokrasi liberal mewariskan ketidak stabilan politik yang cukup parah dan membuahkan
berbagai pergolakan serta pemberontakan dalam negeri yang mengancam persatuan
bangsa. Melihat keadaan tersebut, Presiden Soekarno terdorong untuk menerapkan
sistem pemerintahan yang sentralistis yang berpusat di tangan presiden
yangdikenal dengan demokrasi &erpimpin ditandai dengan dikeluarkannya
dekrit Presiden 5 juli1959. Keputusan
tersebut diambil atas pertimbangan menempatkan kesatuan bangsa sebagaiyang
utama.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian demokrasi liberal
2.
Bagaimana sejarah demokrasi liberal
di Indonesia
3.
Apa sajakah hal-hal positif dan negatif selama
berlakunya sistem demokrasi liberal?
4.
Bagaimanakah kehidupan politik
Indonesia di masa demokrasi liberal?
5.
Bagaimanakah
kehidupan ekonomi Indonesia di masa demokrasi liberal?
6.
Apa saja kebijakan pemerintah
untuk mengatasi masalah ekonomi pada masa demokrasiliberal?
7.
Bagaimanakah
kehidupan pertahanan dan keamanan Indonesia di masa demokrasiliberal?
8.
Bagaimana akhir masa demokrasi liberal
di Indonesia?
C.
Tujuan
1.
Untuk mengetahui pengertian
demokrasi liberal
2.
Untuk mengetahui sejarah demokrasi
liberal di Indonesia
3.
Untuk
mengetahui hal-hal positi$ dan negati$ selama berlakunya sistem
demokrasi liberal
4.
Untuk mengetahui kehidupan politik Indonesia
di masa demokrasi liberal
5.
Untuk mengetahui
kehidupan ekonomi Indonesia di masa demokrasi
liberal
6.
Untuk mengetahui kebijakan pemerintah
dalam mengatasi masalah ekonomi pada masademokrasi liberal
7.
Untuk mengetahui kehidupan
pertahanan dan keamanan Indonesia di masa demokrasiliberal
8.
Untuk mengetahui akhir masa
demokrasi liberal di Indonesia
D.
Manfaat
1.
Dapat mengetahui pengertian
demokrasi liberal
2.
Dapat mengetahui sejarah demokrasi
liberal di Indonesia
3.
Dapat mengetahui hal-hal positif dan
negatif selama berlakunya sistem demokrasi liberal
4.
Dapat mengetahui
kehidupan politik Indonesia di masa demokrasi liberal
5.
Dapat mengetahui
kehidupan ekonomi Indonesia di masa demokrasi liberal
6.
Dapat mengetahui kebijakan
pemerintah dalam mengatasi Masalah
ekonomi pada masademokrasi
liberal
7.
Dapat mengetahui kehidupan
pertahanan dan keamanan Indonesia di masa demokrasiliberal
8.
Dapat mengetahui akhir masa
demokrasi liberal di Indonesia
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Demokrasi Liberal
Secara etimologis kata demokrasi berasal dari bahasa yunani, yaitu demos
yang berarti rakyat dan kratos atau crateinyang berarti
pemerintahan. Jadi, demokrasi adalahpemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan
untuk rakyat. Sementara liberalisme adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat,
dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan dan
persamaan hak adalah nilai politik yang utama.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa demokrasi liberal adalah sistem politik yang
menganut kebebasan individu. Secara
konstitusional hak-hak individu dari kekuasaan pemerintah. Dalam demokrasi
liberal, keputusan-keputusan mayoritas diberlakukan pada sebagian
besarbidang-bidang kebijakan pemerintah yang tunduk pada pembatasan-pembatasan
agar keputusan pemerintah tidak melanggar kemerdekaan dan hak-hak indi4idu seperti
tercantumdalam konstitusi. Demokrasi liberal pertama kali dikemukakan pada abad
pencerahan oleh penggagas teori kontrak sosial seperti Thomas Hobbes, John
Locke, dan Jean-Jacues Rousseau.
B.
Sejarah Demokrasi Liberal di Indonesia
Setelah dibubarkannya RIS, sejak tahun 1950 RI melaksanakan demokrasi parlementer
yang liberal dengan mencontoh sistem parlementer barat, dan masa ini
disebutmasa demokrasi liberal. Indonesia dibagi 10 provinsi yang mempunyai
otonomi danberdasarkan UUDS 1950 yang
juga bernafaskan liberal.
Akibat pelaksanaan konstitusi tersebut, pemerintahan RI dijalankan oleh
suatu dewan menteri (Kabinet) yang dipimpin oleh seorang perdana menteri dan
bertanggung jawab kepada parlemen (DPR). Sistem politikpada masa demokrasi
liberal telah mendorong untuk lahirnya partai-partai politik, karenadalam
sistem kepartaian menganut sistem multipartai.
Demokrasi liberal berlangsung selama hampir 9 tahun, dalam kenyataannya
rakyat Indonesia sadar bahwa UUDS 1950 dengan sistem demokrasi liberal tidak
cocok dan tidak sesuai dengan kepribadian bangsa kita. Pada tanggal 5 juli 1959
Presiden Soekarno mengumumkan dektrit mengenai pembubaran konstituante dan
berlakunya kembi UUD 1945 serta tidak berlakunya UUDS 1950 karena dianggap
tidak cocok dengan keadaan ketatanegaraan Indonesia.
C.
Hal hal Positif dan Negatif
Selama Berlakunya Sistem Demokrasi Liberal
Menurut
Herbert Feith, selama berlakunya sistem parlementer, terdapat hal hal negatif yang terjadi, antara lain sebagai berikut.
a.
Kebijakan pemerintahan jangka
panjang banyak yang tidak dapat terlaksana akibat masakerja kabinet
rata-rata pendek.
b.
Meningkatnya
ketegangan sosial di masyarakat akibat masa kegiatan
kampanye pemiluyang berlangsung lama, yaitu sejak tahun 1953 hingga tahun
1955.
c.
Kebijaksanaan
beberapa perdana menteri yang cenderung menguntungkan
partainyasendiri.
Herbert
Feith Juga mencatat beberapa hal positif dalam pelaksanaan demokrasi liberal
pada masa 1950-1959, antara lain sebagai berikut.
a.
Pemerintah berhasil melaksanakan program-programnya seperti dalam
bidang pendidikan,
peningkatan produksi, peningkatan tingkat ekspor, dan mengendalikanin$lasi.
b.
Kabinet dan ABRI berhasil mengatasi pemberontakan-pemberontakan,
seperti Republik Maluku Selatan (RMS)
dan DI/TII di jawa barat.
c.
Pesatnya jumlah pertumbuhan
sekolah-sekolah.
d.
Indonesia mendapat
nama baik di dunia internasional karena berhasil
menyelenggarakan Konverensi Asia-Afrika (KAA) di bandung pada april 1955.
e.
Pers menikmati kebebasan yang cukup sehingga
banyak variasi dalam
pemberitaan,serta hadirnya kritik dari pers, terutama
dalam kolom kartun dan pojok.
f.
Badan-badan pengadilan menikmati
kebebasan yang besar dalam menjalankan fungsinya.
g.
Hanya terdapat
sedikit ketegangan diantara umat beragama.
h.
Minoritas Tionghoa mendapat
perlindungan dari pemerintah.
D.
Kehidupan Politik
Hasil konferensi Meja Bundar pada
dua november 1949 di Den Haag melahirkan terbentuknya negara Republik Indonesia
Serikat (RIS). Setelah itu, diangkatlah Soekarno dan Hatta sebagai presiden dan
perdana menteri yang pertama, dan dibentuk pula kabinet. Namun, pada Agustus
1950, RIS dibubarkan karena sebagian negara-negara federal Belanda membubarkan
diri dan menginginkan kembali ke pengakuan Republik Indonesia. Kemudian pada 15
Agustus 1950, Presiden Soekarno menandatangani rancangan UUD NKRI (RI dan RIS) yang kemudian lebih dikenal dengan UUDS 1950
sehingga pada periode ini bentuk negara Indonesia yang semula jederal beralih
pada bentuk negara kesatuan dimanakekuasaannya dipegang oleh pemerintah pusat
dan menganut sistem pemerintahan parlementer.
Tetapi, praktik sistem pemerintahan parlementer yang diterapkan pada masa
berlakunya UUDS 1950 ini ternyata tidak membawa bangsa Indonesia ke arah
kemakmuran,keteraturan, dan kestabilan politik. Hal ini tercermin dari jatuh
bangunnya kabinet dalam kurunwaktu antara 1950-1959, telah terjadi 7 kali
pergantian kabinet, yaitu.
a.
Kabinet Natsir (6 September 1950-18 April
1951)
Program kerja
Ø Meningkatkan keamanan
dan ketertiban
Ø Menguatkan
konsolidasi, penyempurnaan susunan pemerintahan.
Ø Penyempurnaan
angkatan perang.
Ø Memperjuangkan masalah Irian Barat.
Ø Memusatkan perhatian
pada ekonomi rakyat sebagai Fondasi]’
ekonomi nasional.
Hasil kerja
Ø Memetakan
politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif
Ø Masukknya
Indonesia menjadi anggota PBB.
Ø Dilaksanakannya perundingan masalah Irian
Ø Barat dengan pihak Belanda.
Ø Kegagalan
Gagalnya
perundingan dengan Belanda tantang masalah Irian Barat, mengakibatkan munculnya
mosi tidak percaya pada kabinet Natsir di parlemen.
b.
Kabinet Sukiman ( dua
enam april Sembilan belas lima satu sampai Sembilan belas lima dua)
Program kerja
Ø Penerapan
tindakan tegas untuk menjaga keamanan dan ketertiban.
Ø Memperjuangkan keamanandan kesejahteraan
rakyat dengan mem perbarui hukumagrarian untuk kesejahteraan petani.
Ø Mempersiapkan
segala usaha untuk pemilu.
Ø Memperjuangkan
Irian Barat dalam wilayah Indonesia.
Hasil kerja
Banyaknya hambatan dalam kabinet
Sukiman membuat hasil kerja kabinet ini tidak maksimal. Hambatannya, antara
lain kondisi keamanan negara yang belum stabil, adanya perseteruan antar
berbagai elemen politik, dan adanya permasalah dengan politik luar negeriIndonesia.
Kegagalan- kgagalan kabinet ini,
yaitu dalam penanganan masalah keamanan dalam negeri,memihaknya Indonesia
kepada blok barat dengan menandatangani Mutual Security Act dengan pemerintah
Amerika Serikat.
c.
Kabinet Wilopo (19 Maret 195dua-dua
Juni 1953)
Program kerja
Ø Mempersiapkan
dan menyelenggarakan pemilu.
Ø Meningkatkan
taraf kemakmuran, pendidikan, dan
keamanan rakyat.
Ø Berusaha menyelesaikan
masalah Irian Barat, memperbaiki hubungan
dengan Belanda,
dan konsisten menjalankan politik luar negeri yang bebas aktif.
Hasil kerja Kabinet ini menghadapi banyak hambatan
dalam melaksanakan tugasnya, antaralain
Ø Munculnya
sentimen kedaerahan akibat ketidak puasan terhadap
pemerintah.
Ø Adanya konflik
di tubuh angkatan darat yang mengakibatkan terjadinnya peristiwa 17
Oktober 195dua.
Ø Adanya peristiwa
Tanjung Morawa di Sumatra Utara.
Kegagalan
Dengan adanya hambatan tersebut,
kabinet ini melahirkan mosi tidak percaya darikelompok oposisi pemerintah
bernama Saekat tani Indonesia dan
diakhiri denganpengembalian mandat oleh Wilopo.
d.
Kabinet Ali Sastroamidjojo I
(31 Juli 1953-dua empat Juli 1955)
Program kerja
Ø Mempersiapkan
penyelenggaraan pemilu yang rencananya Diadakan
pada tengahtahun
1955.
Ø Mengatasi
gangguan keamanan dan pemberontakan di daerah.
Ø Melaksanakan
politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif dan turut
berperan dalammenciptakan perdamaian dunia.
Hasil kerja
Ø Disusunnya
kerangka panitia pelaksanaan pemilu.
Ø Suksesnya
pelaksanaan Konferensi Asia Afrika.
Ø Membaiknya
hubungan dengan Cina.
Kegagalan
Ø
Memperjuangkan Irian Barat ke dalam
negara Indonesia.
Ø
Munculnya pemberontakan di berbagai
daerah.
Ø
Masih berlanjutnya konflik
di tubuh Angkatan Darat, yaitu dengan mundurnya A.H nasution
yang digantikan oleh Bambang Sugeng.
e.
Kabinet Burhanuddin Harahap (Agustus
1955-3 Maret 1956
Program kerja
Ø Memerintahkan
polisi militer untuk menangkap Mr.DJody Gondokusumo atas kasuskorupsi
di departemen kehakiman.
Ø Melaksanakan
pemilu secara baik, maksimal, dan secepat mungkin.
Ø Mengangkat
kembali A.H Nasution sebagai KSAD pada dua delaan Oktober 1955.
Hasil kerja
Ø Diselenggarakannya pemilu tahun
1955.
Ø Dibubarkannya Uni Indonesia-Belanda.
Ø berhasil
menentukan sistem parlemen Indonesia.
Kegagalan
1.
Banyak perseteruan antara pemenang
pemilu yang meyebabkan sidang parlemenmenjadi deadlock.
f.
Kabinet Ali Sastroamidjojo
II (dua puluh emat Maret 1956-14 Maret 1957)
Program kerja
2.
Memperjuangkan masuknya Irian Barat
ke Indonesia.
3.
Mempercepat proses pembentukan
daerah otonom di Indonesia.
4.
Meningkatkan kesejahteraan kaum
buruh dan pegawai negeri serta menyehatkan danmenyeimbangkan anggaran
belanda dan keuangan negara.
5.
Mengganti sistem ekonomi kolonial
menjadi sitem ekonomi nasional.
Hasil kerja
6.
Ditandatanganinya undang-undang pembatalan
KMB oleh Presiden
Soekarno.
7.
Beralihnya perusahaan Belanda
menjadi milik warga Tionghoa.
8.
Kepentingan Belanda diperlakukan
sesuai dengan hukum yang
berlaku di
Indonesia.
Kegagalan
9.
Munculnya sentimen anti-Cina dalam
masyarakat, munculnya kekecewaanpemerintah daerah terhadap pemerintah pusat,
tidak stabilnya kondisi pemerintah denganbanyaknya partai politik, dan
munculnya gerakan separatis di berbagai daerah.
g.
Kabinet Djuanda atau Kabinet
Karya(9 April 1957-10 juli 1959)
Program kerja
10. Pembentukan
dewan nasional.
11. Normalisasi
keadaan Republik.
12. Memperjuangkan
lancarnya pelaksanaan pembatalan hasil KMB.
13. Memperjuangkan
kembali Irian Barat ke wilayah Indonesia.
14. Mempercepat
dan mengintensifkan program pembangunan.
Hasil kerJa
15. Dibentuknya
dewan nasional untuk menampung aspirasi rakyat yang tergabungdalam
nonpartai.
16. Pembersihan
pejabta-pejabat yang melakukan korupsi.
17. Dilaksanakannya konsolidasi dengan daerah-daerah yang melakukanpemberontakan
dengan tujuan agar dapat menormalisasi keamanan negara.
18. Ditetapkannya
peraturan kelautan yang tertuang dalam Deklarasi
Djuanda tanggal13 Desember 1957. Hal itu merupakan bukti keberhasilan
diplomasi Indonesia dalam memperjuangkan wilayah teritorial laut Indonesia.
Kegagalan
19. Teradi
banyak pemberontakan separatis di daerah-daerah
E. Kehidupan Ekonomi
Pada masa kabinet sukiman, salah satu perubahan kehidupan ekonomi yang
terjadi adalah
adanya proses nasionalisasi ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah.
Prosesnasionalisasi ekonomi itu menyangkut tiga bidang, yaitu
1.
Pembentukan Bank Negara Indonesia
sebelum dilaksanakan nasionalisasi de Javasche Bank, terjadi proses pembentukan
Bank Negara Indonesia sebagai bank nasional pertama Indonesia dan dikukuhkan
didalam peraturan pemerintah pengganti UU No. dua/1946. Proses itu terjadi pada
5 juli 1946
2.
Nasionalisasi de Javasche Bank
menjadi Bank Indonesia Setelah Bank Negara Indonesia terbentuk pemerintah
mengeluarkan UU 2/1951yang berisi tentang pelaksanaan nasionalisasi de Javasche
Bank menjadi Bank Indonesia (BI) yang befungsi sebagai bank sentral dan bank
sirkulasi.. Unang-undang tersebut diperkuat dengan UU No. 11:1953 dan Lembaran
Negara No. 40 yang menyatakan bahwa Jabatan presiden Bank Indonesia berubah
menjadi gubernur Bank Indonesia. Menteri keuangan, menteri perekonomian, dan
gubernur bank menjadi di reksi yang berfungsi melancarkan percepatan
peningkatan taraf ekonomi dan moneter negara.
3.
Pemberlakuan Oeang Repoeblik
Indonesia
Pemerintah Indonesia melakukan nasionalisasi mata uang Republik Indonesia
denganmenukar mata uang Jepang ke mata uang Indonesia yang disebut dengan Oeang
Repoeblik Indonesia (ORI). Proses itu terjadi pada 1 Oktober 1946 yang
dikukuhkan dengan UU No. 17/1946 dan UU No. 19/1946. Kondisi masyarakat
Indonesia pada masaawal kemerdekaan, berangsur-angsur membaik. Kebijakan
pemerintah untuk mengajak rakyat Indonesia agar menabung di bank menjadi awal
sehatnya kondisi perekonomian bangsa.
Pada masa demokrasi liberal, proses nasionalisasi ekonomi Indonesia tidak
berjalan mulus karena konflik kepentingan politik antar kelompok didalam tubuh
konstituante danparlemen. Berbagai kebijakan pada masa demeokrasi liberal
menunjukkan hal itu. Perubahan perekonomian negara juga terlihat pada masa
kabinet Ali II.Ditandatanganinya UU Pembatalan Konferensi Meja Bundar (KMB)
oleh Presiden Soekarno pada 3 Mei 1956 berakibat pada berpindahnya aset-aset modal
yang dimliki para pengusaha Belanda ke tangan pengusaha nonpribumi. Hal itu
berdampak pada munculnya kondisi social yang timpang.
Untuk mengatasi masalah tersebut, pada 19 Maret 1956, kongres Nasional Importir Indonesia mengeluarkan
sebuah kebijakan yang dinamakan Gerakan Assaat. Gerakan itu mendorong pemerintah untuk mengeluarkan peraturan yang
dapat melindungi pengusahapribumi dalam berdaya saing terhadap
pengusaha-pengusaha non pribumi.
F.
Kebijakan Pemerintah Untuk Mengatasi Masalah
Ekonomi Pada Masa Demokrasi
Kehidupan ekonomi Indonesia hingga tahun 1959 belum berhasil dengan baik
dan tantangan yang menghadangnya cukup
berat. Upaya pemerintah untuk
memperbaiki kondisi ekonomi adalah sebagi berikut.
1.
Gunting syafruddin Akibat
dari perang kemerdekaan selama 5 tahun perekonomian di Indonesia terbelangkaidan
kacau sehingga Menteri Keuangan Indonesia Syafruddin Prawira Negara
mengeluarkan kebijakan sanering atau pengguntingan uang dengan tujuan
menyehatkan keuangan negara. Dari kebijakan tersebut, uang kertas dengan nilai
Rp 5.000 ke atasdinyatakan bernilai setengahnya. Sebagai tindak lanjut dari
pengguntingan uang tersebut,dikeluarkan uang kertas baru berdasarkan
undang-undang darurat No. 21 Th. 1950 tentang uang kertas baru. Tindakan ini
dilakukan pada tanggal 0 20 Maret 1950 berdasarkan SK Menteri keuangan No.
PU/1/19 Maret 1950, tujuannya untuk menanggulangi defisit anggaran sebesar Rp
1,5 miliar. Melalui kebijakan ini jumlah uang yang beredar dapat dikurangi dan
pemerintah mendapat kepercayaan dari pemerintah Belanda dengan mendapat
pinjaman sebesar Rp 200 Juta.
2.
Sistem ekonomi gerakan benteng
Sistem
ekonomi gerakan benteng merupakan usaha pemerintah Republik Indonesia untuk
mengubah struktur ekonomi kolonial menjadi struktur ekonomi nasional yang
dilakukan pada masa Kabinet Natsir dan direncanakan oleh Sumitro Joyohadikusumo
(Menteri Perdagangan). Program ini bertujuan untuk menumbuhkan kelas pengusaha
dikalangan bangsa Indonesia dengan memberi bimbingan, bantuan kredit,
sertakesempatan bagi para pengusaha Indonesia yang bermodal lemah untuk
berpartisipasidalam pembangunan ekonomi nasional. Program ini dimulai pada April
1950, hasilnya selama 3 tahun kurang lebih 700 perusahaan bangsa Indonesia
menerima bantuan kredit dari program ini. Namun, tujuan program ini tidak dapat
tercapai dengan baik dan mengakibatkan beban keuangan pemerintah makin besar.
3.
Nasionalisasi De Javasche Bank
Pada akhir
tahun 1951, pemerintah Indonesia melakukan nasionalisasi De Javasche Bank
menjadi Bank Indonesia. Awalnya terdapat
peraturan bahwa mengenai pemriankredit harus dikonsultasikan pada pemrintahan
Belanda. Hal ini menghambat pemerintah
dalam menjalankan kebijakan ekonomi dan moneter. Tujuan dari nasionalisasi De
Javasche adalah untuk menaikkan pendapatan dan menurunkan biaya ekspor,
sertamelakukan penghematan.
4.
Sistem Ekonomi Ali Baba
Pada
pemerintahan Kabinet Ali Sastroamidyoyo I (Agustus 1955-Agustus 1955),
MenteriPerekonomian Mr. Iskak Tjokroadisurjo memprakarsai sistem ekonomi yang
dikenal dengan nama sistem Ali Baba. Sistem ini merupakan bentuk kerjasama
ekonomi antara pengusaha pribumi yang di identikkan dengan Ali dan pengusaha
nonpribumi (khususnya Cina) yang diidentikkan dengan Baba. Sistem ekonomi ini
bertujuan mendorong tumbuhdan berkembangnya pengusaha-pengusaha swasta nasional
pribumi. Dalam pelaksanaannya, sistem ekonomi Ali Baba tidak berjalan seperti
yang diharapkan. Hal ini disebabkan para pengusaha nonpribumi lebih
berpengalaman daripada pengusahapribumi. Akibatnya, para pengusaha pribumi
hanya dijadikan sebagai alat bagi parapengusaha nonpribumi untuk mendapatkan
kredit dari pemerintah.
5.
Devaluasi mata uang rupiah
Dalam usaha
memperbaiki kondisi ekonomi, pada tanggal Dua puluh enam Agustus 1959, pemerintah
mendevaluasi mata uang Rp 1.000 dan Rp 5.00 menjadi Rp 100 dan Rp 50.
Pemerintah juga melakukan pembekuan terhadap semua simpanan di bank-bank
yang melebihi jumlah Dua puluh lima ribu.
Tujuan kebijakan devaluasi ini adalah untuk meningkatkan nilai rupiahdan
rakyat kecil tidak dirugikan. Namun, kebijakan pemerintah ini ternyata tidak
dapat mengatasi kemunduran ekonomi secara keseluruhan.
6.
Mengeluarkan deklarasi ekonomi
Deklarasi
ekonomi (dekon) dikeluarkan pada tanggal Dua puluh enam Mei 1963. Pemerintah menganggap
bahwa untuk menanggulangi kesulitan ekonomi, satu-satunya jalan adalah dengan
sistem ekonomi terpimpin. Namun, dalam pelaksanaan ekonomi terpimpin,
pemerintah lebih menonjolkan unsur terpimpinnya daripada unsur ekonomi evisien.
Sektor ekonomi ditandatangani langsung oleh presiden. Akibatnya, kegiatan
ekonomisangat bergantung pada pemerintah pusat dan kegiatan ekonomipun
mengalamipenurunan.
7.
Rencana pembangunan
lima tahun (RPLT)
Pada masa
Kabinet Ali Sastroamidjojo II,
pemerintahan membentuk Badan PerencanaanPembangunan Nasional yang disebut Biro
Perancang Negara. Tugas biro ini merancang pembangunan Jangka panjang. Ir. Djuanda
diangkat sebagai menteri perancang nasional. Biro ini berhasil menyusun RPI.T
yang rencananya akan dilaksanakan antara tahun1956-1961 dan disetujui oleh DPR pada
tanggal 11 November 1958. Tahun 1957 sasarandan prioritas RPLT diubah melalui Musyawarah Nasional
Pembangunan (Munap) pembiayaan RPLT
diperkirakan Rp 12,5 miliar. RPLT
tidak dapat berjalan dengan baikdisebabkan karena :
-
Adanya depresi ekonomi di Amerika
Serikat dan Bropa Barat pada akhir tahun 1957 dan awal tahun 1958 mengakibatkan
ekspor dan pendapatan negara merosot.
-
Perjuangan pembebasan Irian Barat dengan melakukan nasionalisasi
perusahaan-perusahaan Belanda di Indonesia menimbulkan gejolak ekonomi.
-
Adanya ketegangan antara pusat dan
daerah sehingga banyak daerah yangmelaksanakan kebijakan ekonominya
masing-masing.
8.
Musyawarah nasional pembangunan
Masa kabinet Djuanda terjadi
ketegangan hubungan antara pusat dan daerah. Masalahtersebut untuk sementara
waktu dapat teratasi dengan Musyawarah Nasional Pembangunan (Munap). Tujuan
diadakannya Munap adalah untuk mengubah rencanapembangunan agar dapat
dihasilkan rencana pembangunan yang menyeluruh untuk jangka pajang. Tetapi
tetap saja rencana pembangunan tersebut tidak dapatdilaksanakan dengan
baik karena:
-
Adanya kesulitan dalam menentukan
skala prioritas.
-
Terjadi ketegangan politik yang
tidak dapat diredakan.
-
Timbul pemberontakan PRRI/Permesta.
-
Membutuhkan biaya besar untuk menumpas pemberontakan
-
PRRI atau Permestasehingga
meningkatkan devisit Indonesia.
-
Memuncaknya ketegangan politik Indonesia-Belanda menyangkut masalah Irian
Barat mencapai konfrotansi bersenjata.
G.
Kehidupan Bidang Pertahanan dan Keamanan
1.
Masalah-Masalah Angkatan Perang
v Peristiwa 17
Oktober 1952
Pada hakikatnya, peristiwa 17 Oktober 1952 mempunyai Fator-faktor penyebab
pada masa-masa sebelumnya. Setelah perag kemerdekaan berakhir, Indonesia menghadapi banyak persoalan antara lain : .
a)
Keadaan sosial ekonomi yang semakin
memburuk dan korupsi yang semakin meluas.
b)
Keadaan politik yang labil dengan
sistem yang liberal model Eropa Barat(khususnya Belanda).
c)
Persoalan pembebasan Irian Barat
yang tidak cepat selesai.
d)
Kemorosotan integritas dan kemampuan
aparatur pemerintah akibat pertentangan
antar dan intern partai-partai serta pergolakan intern angkatanperang.
Akibat peristiwa 17 Oktober ini AD
mengalami perpecahan yang memerlukan waktu beberapa tahun untuk
mengatasinya. KSAP Jenderal Mayor T.B.
Simatupang diberhentikan dan jabatan KSAP (kepala staf angkatan perang) dihapuskan,sedangkan KSAD
(kepala staf angkatan darat) Kolonel ). A.H Nasution mengajukan permintaan
berhenti, sebagai pertanggung jawaban atas terjadinya peristiwa tersebut. Ia
digantikan oleh Kolonel Bambang Sugeng. Pemerintah pada tanggal 22 Nember 1952 mengeluarkan
keterangan bahwa pada tanggal 17 Oktober tidakterjadi coup atau percobaan coup.
2.
Masalah Intern Angkatan Darat
Peristiwa yang hampir serupa dengan yang terjadi di Angkatan Darat
padatanggal 27 Juni 1955 terjadi pula di angkatan Udara. Di pangkalan Udara
Cililitan (Halim Perdanakusuma) pada
tanggal 14 Desember 1955 terjadi keributanmen delang dilantiknya wakil kepala
staf angkatan udara komodar muda Hubertus Suyono. Tidak lama sebelum komodar Suyono dilantik, secara tiba-tiba25 orang prajurit
dari pasukan kehormatan pembawa panji-panji AU bersama-sama majuserta
berteriak, “tidak setuju”.
Secara beramai-ramai mereka meninggalkan barisan, upacara pelantikan mengalami
kegagalan karena Menteri Pertahanan Burhanudin Harahap menolak melantik Komodar
Suyono tanpa panji-panji. Sementara itu, pada tanggal 2 Juli dan 12 Juli 1952
di Pangkalan Cililitan diselenggarakan rapat yang membahas masalah pendidikan
dan penerbangan yang dipimpin oleh Komodar Muda Suyono. Terjadinya rentetan
rapat-rapat itu menunjukkan bahwa dikalangan perwira AURI terdapat dua kelompok, sebagian mendukung KSAU
dan sebagian lagi menentang kebijakan KSAU
3.
Gangguan Keamanan
Kembalinya ke Negara Kesatuan juga
berdampak pada sebagian tokoh dari Negara bagian ingin tetap mempertahankan
sebagai sebuah negara yang berdiri sendiri dengancara mengadakan
pemberontakan-pemberontakan. Sehingga hal ini menjadi gangguandan ancaman
keamanan dalam negeri. Adapun pemberontakan-pemberontakan ituantara lain.
Ø Pemberontakan
APRA
Ø Pemberontakan Andi Aziz
Ø Pemberontakan RMS
Ø Pemberontakan
DI/TII
H.
Akhir Masa Demakrasi Li Beral Di
Indonesia
Kegagalan konstituante menetapkan UUD membawa Indonesia ke tepi jurang
kehancuran. Keadaan negara yang telah dirongrong sejumlah pemberontakan menjadi
tambah gawat. Faktor-faktor utama yang menjadi penyebab kegagalan konstituante
dalam merancang sebuah UUD bagi Indonesia adalah terdapatnya sikap mementingkan
kepentingan golongan atau partai politik yang berada didalam konstituante,
selain itu terdapatpula berbagai peristiwa politik yang merembet pada konflik
kepentingan masing-masing kelompok
politik di dalam tubuh konstituante. Atas dasar pertimbangan menyelamatkan negara
dari bahaya, Presiden Soekarno terpaksa
melakukan tindakan inkonstitusional. Tindakan presiden tersebut berupa
pengeluaran dekrit yang dikenal sebagai Dekrit Presiden 5 juli 1959. Tindakan itu terutama didukung oleh kalangan
militer. Dukungan kalangan militerterhadap Dekrit Presiden tersebut karena
sudah direpotkan oleh sejumlah pemberontakan akibat krisis politik. Dekrit Presiden 5 juli 1959 berisi beberapa
keputusan, yaitu
Ø
Konstituante dibubarkan.
Ø
UUD 1945 berlaku kembali sebagai UUD
Republik Indonesia.
Ø
Membentuk MPRS dan DPAS dalam waktu singkat.
Dengan dikeluarkannya Dekrit
Presiden 5 juli 1959, maka masa demokrasi liberal atau parlementer di Indonesia
berakhir dan beralih pada demokrasi terpimpin.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah pengakuan kedaulatan oleh Belanda pada akhir Desember 1949 secara
hukum internasional Indonesia memiliki prospek sebagai negara yang dapat
menentukan masa depannya sendiri dan pada 15 Agustus 1950, Presiden Soekarno
menandatangani rancangan UUD NKRI yang dikenal dengan UUDS 1950 yang kemudian
mulai diberlakukan tanggal 17 Agustus 1950. Dengan diberlakukannya UUDS 1950 Indonesia menerapkan sistem
Demokrasi Liberal sejak tahun 1950 sampai tahun 1959. Pada masa Demokrasi
Liberal banyak terjadi kemelut politik salah satunya adalah silih bergantinya
kabinet selama 9 tahun. Selain itu, Juga terjadi prestasi politik yang gemilang
seperti terlaksananya KonFerensi Asia
Afrika pada masakerja cabinet Ali
Sastroamidjojo I dan terlaksananya pemilu yang pertama. Namun, kekacauan
politik yang terjadi pada masa Demokrasi Liberal tidak kunjung usai hingga
akhirnya Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 akibat kegagalan
konstituante dalam menetapkan UUD.
Dengan dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 juli 1959 menandakan berakhirnya
masa Demokrasi Liberal dan berlakunya masa Demokrasi terpimpin
B.
Saran
Dari sejarah berlakunya masa Demokrasi Liberal semoga kita mendapat pelajaran
dan hikmah dari apa yang telah terjadi juga bisa memperbaiki kesalahan yang ada
untuk kebaikan masa depan.
DAFTAR PUSTAKA
Komentar
Posting Komentar