MAKALAH
KEPENDUDUKAN JEPANG DI INDONESIA
NAMA
KELOMPOK :
1.
A. WILDAN M.
2.
WAKHIDI K.
3.
KHAERUL MUSTASILHAQ
4.
TOHIRIN JAMAL P.
5.
ABDUL WAHAB
6.
YODI
7.
IKROM FAUDI
KELAS :
MADRASAH
ALIYAH DARULL ISTIKOMAH
JL. RAYA UTARA SONGGOM, Songgom Lor,
Kec. Songgom, Kab. Brebes Prov.
Jawa Tengah
2020
KATA PENGANTAR
Puji
syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena hanya atas rahmat
dan petunjuk-Nya saya dapat menyelesaikan penulisan berupa makalah yang
berjudul “KEPENDUDUKAN JEPANG DI INDONESIA (1942-1945)”
Sumber
dari makalah ini berupa buku-buku sejarah yang ditambah dengan informasi yang
didapat dari hasil browsing di internet referensi buku dan sumber, sumber
lainnya. Diantara sumber-sumber tersebut kami susun, semua informasi dan
fakta yang sesuai dengan makalah ini, sehingga menurut kami data-data di dalam
makalah ini sudah cukup akurat.
Dalam
penulisan makalah ini pastilah ada banyak kendala yang saya temui namun saya
berhasil menghadapinya dan menyelesaikan makalah ini tepat waktu.
Akhir
kata jika ada sesuatu pada khususnya kata-kata yang tidak berkenan pada hati
pembaca mohon dimaklumi. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Songgom, Januari 2020
Penyusun
Tim Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................... i
DAFTAR ISI ............................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................ 1
A.
Latar Belakang............................................................................. 1
B.
Rumusan Masalah........................................................................ 1
C.
Tujuan........................................................................................... 1
BAB II
PEMBAHASAN............................................................................. 2
A.
Latar Belakang .................................................................................. 2
B.
Reaksi Tokoh Nasional Saat
Penjajahan Jepang
Terhadap
Bangsa Indonesia .............................................................. 3
C.
Kegiatan
penjajahan jepang di Bidang Politik, Ekonomi,
dan Sosial Budaya ............................................................................. 3
D.
Perlawanan Rakyat Terhadap Jepang................................................. 5
BAB III
PENUTUP..................................................................................... 8
A.
Kesimpulan......................................................................................... 8
B.
Saran................................................................................................... 8
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 9
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Jepang menjajah Indonesia
selama 3 tahun yang dimulai pada tahun 1942 dan berakhir pada saat Indonesia
merdeka. Tentara Jepang mendarat pertama kali pada tanggal 11 Januari 1942 yang
diawali dengan menguasai daerah-daerah penghasil minyak, seperti Tarakan,
Balikpapan serta beberapa daerah di Kalimantan lainnya. Pada tanggal 1 Maret
1942, Jepang berhasil mendarat di tiga tempat di Jawa, yaitu di daerah Banten,
Indramayu, dan Bojonegoro. Tentara Jepang kemudian menyerbu pos tentara-tentara
Belanda serta mengalahkannya. Pada 8 Maret 1942, Belanda akhirnya menyerah
tanpa syarat kepada Jepang yang ditandai dengan ditandatanganinya Perjanjian
Kalijati oleh Belanda.
Setelah Belanda menyerah tanpa
syarat kepada Jepang, Jepang mulai menyusun strategi penjajahan untuk menguasai
Indonesia. Pada awalnya, kedatangan Jepang di Indonesia disambut baik oleh
bangsa Indonesia karena Jepang dianggap telah membebaskan penderitaaan rakyat
Indonesia yang diakibatkan oleh Belanda. Selanjutnya Jepang menerapkan sistem
Pemerintahan Militer yang bersifat sementara sampai nantinya disempurnakan
dengan penambahan Pemerintahan Sipil. Selain itu, Jepang juga membentuk
organisasi sipil, serta organisasi militer dan semimiliter. Jepang kemudian
mulai menerapkan kebijakan ekonomi perang serta Romusha yang sangat merugikan
bangsa Indonesia. Hal ini yang mengakibatkan rakyat Indonesia muak lalu
melakukan perlawanan kepada Jepang.
Berdasarkan data penelusuran yang telah kami kaji, ada beberapa hal yang menarik mengenai pembahasan dari tema ini. Maka dari
itu, saya selaku penulis membuat makalah yang berjudul “MASA PENDUDUKAN
JEPANG DI INDONESIA TAHUN 1942-1945”. Judul makalah ini sengaja dipilih karena
baik untuk menambah wawasan kita mengenai penjajahan Jepang sewaktu di
Indonesia.
B. Rumusan Masalah
1.
Mengapa
Jepang datang dan menjajah bangsa Indonesia?
2.
Apa saja
yang dilakukan Jepang sewaktu berada di Indonesia?
3.
Apa
saja perlawanan rakyat Indonesia terhadap tentara Jepang?
C. Tujuan
1.
Mengetahui
alasan Jepang datang dan menjajah bangsa Indonesia.
2.
Mengetahui
apa saja yang dilakukan Jepang sewaktu berada di Indonesia.
3.
Mengetahui apa saja
perlawanan rakyat Indonesia terhadap tentara Jepang.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Latar Belakang
Bulan
Oktober 1941,
Jenderal Hideki Tojo menggantikan Konoe Fumimaro sebagai Perdana Menteri Jepang. Sebenarnya,
sampai akhir tahun 1940, pimpinan militer Tambelang tidak menghendaki melawan
beberapa negara sekaligus, namun sejak pertengahan tahun 1941, mereka melihat
bahwa Amerika Serikat, Inggris, dan Belanda harus
dihadapi sekaligus apabila mereka ingin menguasai sumber daya alam di Asia
Tenggara. Apalagi setelah Amerika melancarkan embargo minyak
bumi yang sangat dibutuhkan untuk industri di Jepang maupun untuk keperluan
perang.
Admiral
Isoroku Yamamoto, Panglima Angkatan Laut Jepang, mengembangkan strategi perang
yang sangat berani, yaitu mengerahkan seluruh kekuatan armadanya untuk dua
operasi besar. Seluruh potensi Angkatan Laut Jepang mencakup 6 kapal induk
(pengangkut pesawat tempur), 10 kapal perang, 18 kapal penjelajah berat, 20
kapal penjelajah ringan, 4 kapal pengangkut perlengkapan, 112 kapal perusak, 65
kapal selam serta 2.274 pesawat tempur. Kekuatan pertama, yaitu 6 kapal induk,
2 kapal perang, 11 kapal perusak serta lebih dari 1.400 pesawat tempur, tanggal
7 Desember 1941, akan menyerang secara mendadak basis Armada Pasifik Amerika
Serikat di Pearl Harbor di kepulauan Hawaii.
Sedangkan kekuatan kedua, sisa kekuatan Angkatan Laut yang mereka miliki,
mendukung Angkatan Darat dalam Operasi Selatan, yaitu penyerangan atas Filipina dan Malaya/Singapura,
yang akan dilanjutkan ke Jawa.
Kekuatan yang dikerahkan ke Asia Tenggara adalah 11 Divisi Infantri yang
didukung oleh 7 resimen tank serta 795 pesawat tempur. Seluruh operasi
direncanakan selesai dalam 150 hari. Admiral Chuichi Nagumo memimpin armada
yang ditugaskan menyerang Pearl Harbor.
Hari
minggu pagi tanggal 7 Desember 1941,
360 pesawat terbang yang terdiri dari pembom pembawa torpedo serta sejumlah
pesawat tempur diberangkatkan dalam dua gelombang. Pengeboman Pearl Harbor ini
berhasil menenggelamkan dua kapal perang besar serta merusak 6 kapal perang
lain. Selain itu, pengeboman Jepang itu juga menghancurkan 180 pesawat tempur
Amerika. Lebih dari 2.330 serdadu Amerika tewas dan lebih dari 1.140 lainnya
luka-luka. Namun tiga kapal induk Amerika selamat, karena pada saat itu tidak
berada di Pearl Harbor. Tanggal 8 Desember 1941,
Kongres Amerika Serikat menyatakan perang terhadap Jepang.
Perang Pasifik ini berpengaruh
besar terhadap gerakan kemerdekaan negara-negara di Asia Timur, termasuk Indonesia.
Tujuan Jepang menyerang
dan menduduki Hindia Belanda adalah untuk
menguasai sumber-sumber alam, terutama minyak bumi, guna mendukung potensi
perang Jepang serta mendukung industrinya. Jawa dirancang
sebagai pusat penyediaan bagi seluruh operasi militer di Asia Tenggara,
dan Sumatra sebagai
sumber minyak utama.
B. Reaksi Tokoh Nasional Saat Penjajahan Jepang Terhadap
Bangsa Indonesia
Kaum
pergerakan dan kaum intelek nasional akhirnya sadar bahwa Jepang ternyata jauh
lebih berbahaya bagi bangsa Indonesia karena kekejaman dan penindasannya
terhadap rakyat.Sejak awal tahun 1944, rasa simpati terhadap Jepang mulai
hilang dan berganti dengan kebencian.
Muncullah
gerakan-gerakan perlawanan terhadap Jepang, seperti Gerakan 3A, Putera, dan
Peta.Salah satu contoh pemberontakan bangsa Indonesia yang terbesar terhadap
Jepang adalah pemberontakan Peta Blitar tanggal 4 Februari 1945. Pemberontakan
yang dipimpin Supriyadi ini sangat mengejutkan Jepang. Banyak tentara Jepang
yang terbunuh. Untuk menghadapinya, Jepang
mengepung
kedudukan Supriyadi. Terjadilah tembak menembak yang membawa banyak korban bagi
kedua belah pihak. Dalam pertempuran tersebut, Supriyadi menghilang.
Peristiwa
ini diabadikan sebagai hari Peta. Setelah perlawanan tersebut, muncul
perlawanan-perlawanan lainnya dari berbagai daerah, seperti perlawanan rakyat
Aceh dan perlawanan rakyat Sukamanah, Tasikmalaya.
Adapun dari
kalangan intelektual, muncul organisasi-organisasi bawah tanah yang
menyebarluaskan pandangan anti-Jepang. Mereka menanamkan bahwa bagaimanapun,
Jepang tetap adalah juga penjajah seperti halnya Belanda. Bangsa Indonesia
menurut mereka, hanya akan sejahtera jika telah sepenuhnya merdeka. Tokoh
gerakan ini adalah Sjahrir dan Amir Sjarifuddin.
Para
pemimpin pergerakan nasional semakin tidak tahan menyaksikan penderitaan dan
kesengsaraan rakyat yang memilukan. Oleh karena itu, sebagian dari mereka mulai
bangkit menentang Jepang dengan cara perlawanan senjata. Perlawanan bersenjata
terhadap Jepang terjadi diberbagai daerah,
1.
Aspek Politik dan Militer
Pada
masa pendudukan Jepang, pemerintah Jepang selalu mengajak bekerja sama
golongan-golongan nasionalis. Hal ini jelas berbeda dibandingkan pada masa pemerintahan
Hindia-Belanda. Saat itu golongan nasionalis selalu dicurigai. Golongan
nasionalis mau bekerja sama dengan pemerintahan Jepang karena Jepang banyak
membebaskan pemimpin nasional Indonesia dari penjara, seperti Soekarno, Hatta,
dan juga Sjahrir.
Kenapa
Jepang mengajak kerja sama golongan nasionalis Indonesia? Karena Jepang
menganggap bahwa golongan nasionalis ini memiliki pengaruh besar terhadap
masyarakat Indonesia. Saat itu, Wakil Kepala Staf Tentara Keenam Belas,
Jenderal Harada Yosyikazu, bertemu dengan Hatta untuk menyatakan bahwa Jepang
tidak ingin menjajah Indonesia, melainkan ingin membebaskan bangsa Asia. Karena
itulah Hatta mererima ajakan kerja sama Jepang. Akan tetapi, Sjahrir dan dr.
Tjipto Mangunkusumo tidak mererima tawaran kerja sama Jepang.
Namun,
kemudian Jepang mengeluarkan undang-undang yang terkait pada bidang politik
yang justru banyak merugikan bangsa Indonesia. Beberapa di antaranya:
1. Undang
– undang Nomor 2 tanggal 8 maret tahun 1942, tentang larangan kepada orang indonesia
untuk berserikat dan berkumpul
2. Undang
– undang nomor 3 tanggal 10 mei tahun 1942. Tentang larangan kepada orang orang
indonesia untuk memperbincangkan pergerakan atau propaganda perihal peraturan
dan susunan negara
3. Undang
undang tanggal 22 juli tahun 1942, tentang larangan pendirian organisasi yang
bersifat politik.
Jadi begitulah Squad gambaran bagaimana kondisi bangsa kita
dulu saat berada di bawah penjajahan Jepang. Beberapa kebijakan yang
dikeluarkan Jepang justru menyengsarakan rakyat kita. Selain itu, Jepang juga
memiliki cara-cara yang licik untuk menguasai sumber daya alam serta sumber
daya manusia bangsa kita.
2. Aspek
Ekonomi
Sewaktu Indonesia masih di bawah
penjajahan Jepang, sistem ekonomi yang diterapkan adalah sistem ekonomi perang.
Saat itu Jepang merasa penting untuk menguasai sumber-sumber bahan mentah dari
berbagai wilayah Indonesia. Tujuan Jepang melakukan itu, untuk menghadapi
Perang Asia Timur Raya, Squad. Nah, wilayah-wilayah ekonomi yang
sanggup memenuhi kebutuhannya sendiri atau yang diberi nama Lingkungan
Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya, merupakan wilayah yang masuk ke dalam
struktur ekonomi yang direncanakan oleh Jepang.
Kalau di bidang moneter, pemerintah
Jepang berusaha untuk mempertahankan nilai gulden Belanda. Hal itu dilakukan
agar harga barang-barang dapat dipertahankan sebelum perang.
3. Aspek Sosial
dan Budaya
Pemerintahan Jepang saat itu
mencetuskan kebijakan tenaga kerja romusha. Mungkin kamu sudah sering dengar
kalau romusha adalah sistem kerja yang paling kejam selama bangsa
Indonesia ini dijajah. Tetapi, pada awalnya pembentukan romusha ini
mendapat sambutan baik lho dari rakyat Indonesia, justru
banyak yang bersedia untuk jadi sukarelawan. Namun semua itu berubah ketika
kebutuhan Jepang untuk berperang meningkat.
Pengerahan romusha menjadi sebuah
keharusan, bahkan paksaan. Hal tersebut membuat rakyat kita menjadi sengsara.
Kamu bayangin aja, rakyat kita dipaksa membangun semua sarana perang yang ada
di Indonesia. Selain di Indonesia, rakyat kita juga dikerjapaksakan sampai ke
luar negeri. Ada yang dikirim ke Vietnam, Burma (sekarang Myanmar), Muangthai
(Thailand), dan Malaysia. Semua dipaksa bekerja sepanjang hari, tanpa diimbangi
upah dan fasilitas hidup yang layak. Akibatnya, banyak dari mereka yang tidak
kembali lagi ke kampung halaman karena sudah meninggal dunia.
D.
Perlawanan Rakyat Terhadap Jepang
Pemberontakan
dipimpin seorang ulama muda Tengku Abdul Jalil, guru mengaji di Cot Plieng, Lhokseumawe. Usaha
Jepang untuk membujuk sang ulama tidak berhasil, sehingga Jepang melakukan
serangan mendadak di pagi buta sewaktu rakyat sedang melaksanakan salat Subuh.
Dengan persenjataan sederhana/seadanya rakyat berusaha menahan serangan dan
berhasil memukul mundur pasukan Jepang untuk kembali ke Lhokseumawe. Begitu
juga dengan serangan kedua, berhasil digagalkan oleh rakyat. Baru pada serangan
terakhir (ketiga) Jepang berhasil membakar masjid sementara pemimpin pemberontakan
(Teuku Abdul Jalil) berhasil meloloskan diri dari musuh, namun akhirnya
tertembak saat sedang salat.
Perlawanan
fisik ini terjadi di pesantren Sukamanah Singaparna Tasikmalaya, Jawa Barat di
bawah pimpinan KH. Zainal Mustafa, tahun
1943. Dia menolak dengan tegas ajaran yang berbau Jepang, khususnya kewajiban
untuk melakukan Seikerei setiap pagi, yaitu memberi penghormatan kepada Kaisar
Jepang dengan cara membungkukkan badan ke arah matahari terbit. Kewajiban
Seikerei ini jelas menyinggung perasaan umat Islam Indonesia karena termasuk
perbuatan syirik/menyekutukan Tuhan. Selain itu diapun tidak tahan melihat
penderitaan rakyat akibat tanam paksa.
Saat utusan
Jepang akan menangkap, KH. Zainal Mustafa telah
mempersiapkan para santrinya yang telah dibekali ilmu beladiri untuk mengepung
dan mengeroyok tentara Jepang, yang akhirnya mundur ke Tasikmalaya.
Jepang
memutuskan untuk menggunakan kekerasan sebagai upaya untuk mengakhiri
pembangkangan ulama tersebut. Pada tanggal 25 Februari 1944, terjadilah
pertempuran sengit antara rakyat dengan pasukan Jepang setelah salat Jumat.
Meskipun berbagai upaya perlawanan telah dilakukan, namun KH. Zainal Mustafa
berhasil juga ditangkap dan dibawa ke Tasikmalaya kemudian
dibawa ke Jakarta untuk
menerima hukuman mati dan
dimakamkan di Ancol.
Peristiwa
Indramayu terjadi bulan April 1944 disebabkan adanya pemaksaan kewajiban
menyetorkan sebagian hasil padi dan pelaksanaan kerja rodi/kerja paksa/Romusha
yang telah mengakibatkan penderitaan rakyat yang berkepanjangan.
Pemberontakan
ini dipimpin oleh Haji Madriyan dan kawan-kawan di desa Karang
Ampel, Sindang, Kabupaten Indramayu.
Pasukan Jepang sengaja bertindak
kejam terhadap rakyat di kedua wilayah (Lohbener dan Sindang) agar daerah lain
tidak ikut memberontak setelah mengetahi kekejaman yang dilakukan pada setiap
pemberontakan.
Teuku Hamid
adalah seorang perwira Giyugun, bersama
dengan satu pleton pasukannya melarikan diri ke hutan untuk melakukan
perlawanan. Ini terjadi pada bulan November 1944.
Menghadapi
kondisi tersebut, pemerintah Jepang melakukan ancaman akan membunuh para
keluarga pemberontak jika tidak mau menyerah. Kondisi tersebut memaksa sebagian
pasukan pemberontak menyerah, sehingga akhirnya dapat ditumpas.
Di
daerah Aceh lainnya
timbul pula upaya perlawanan rakyat seperti di Kabupaten Berenaih yang dipimpin
oleh kepala kampung dan dibantu oleh satu regu Giyugun (perwira
tentara sukarela), namun semua berakhir dengan kondisi yang sama yakni berhasil
ditumpas oleh kekuatan militer Jepang dengan sangat kejam.
5.
Pemberontakan Peta
Perlawanan
ini dipimpin oleh Syodanco Supriyadi,
Syodanco Muradi, dan Dr. Ismail. Perlawanan ini disebabkan karena
persoalan pengumpulan padi, Romusha maupun Heiho yang dilakukan secara paksa
dan di luar batas perikemanusiaan. Sebagai putera rakyat para pejuang tidak
tega melihat penderitaan rakyat. Di samping itu sikap para pelatih militer
Jepang yang angkuh dan merendahkan prajurit-prajurit Indonesia. Perlawanan PETA
di Blitar merupakan perlawanan yang terbesar di Jawa. Tetapi dengan tipu
muslihat Jepang melalui Kolonel Katagiri (Komandan pasukan Jepang), pasukan
PETA berhasil ditipu dengan pura-pura diajak berunding. Empat perwira PETA
dihukum mati dan tiga lainnya disiksa sampai mati. Sedangkan Syodanco Supriyadi
berhasil meloloskan diri.
Perlawanan
ini dipimpin oleh Perwira Gyugun Teuku Hamid. Latar belakang perlawanan ini
karena sikap Jepang yang angkuh dan kejam terhadap rakyat pada umumnya dan
prajurit Indonesia pada khususnya.
Perlawanan
ini dipimpin oleh pemimpin regu (Bundanco), Kusaeri bersama rekan-rekannya.
Perlawanan yang direncanakan dimulai tanggal 21 April 1945 diketahui Jepang
sehingga Kusaeri ditangkap pada tanggal 25
April 1945. Kusaeri divonis hukuman mati tetapi
tidak terlaksana karena Jepang terdesak oleh Sekutu.
Perlawanan
rakyat yang dipimpin oleh Pang Suma berkobar di Kalimantan Barat. Pang Suma adalah
pemimpin suku Dayak yang
besar pengaruhnya di kalangan suku-suku di daerah Tayan dan Meliau. Perlawanan ini bersifat gerilya
untuk mengganggu aktivitas Jepang di Kalimantan.
Momentum
perlawanan Pang Suma diawali
dengan pemukulan seorang tenaga kerja Dayak oleh pengawas Jepang, satu di
antara sekitar 130 pekerja pada sebuah perusahaan kayu Jepang. Kejadian ini
kemudian memulai sebuah rangkaian perlawanan yang mencapai puncak dalam sebuah
serangan balasan Dayak yang dikenal dengan Perang Majang Desa, dari April
hingga Agustus 1944 di daerah Tayan-Meliau-Batang Tarang (Kab. Sanggau). Sekitar
600 pejuang kemerdekaan dibunuh oleh Jepang, termasuk Pang Suma.
Koreri yang
berpusat di Biak. Perlawanan ini dilatarbelakangi oleh penderitaan rakyat yang
diperlakukan sebagai budak belian, dipukuli, dan dianiaya. Dalam perlawanan
tersebut rakyat banyak jatuh korban, tetapi rakyat melawan dengan gigih.
Akhirnya Jepang meninggalkan Pulau Biak.
Perlawanan
ini dipimpin oleh Nimrod. Ketika
Sekutu sudah mendekat maka memberi bantuan senjata kepada pejuang sehingga
perlawanan semakin seru. Nimrod dihukum
pancung oleh Jepang untuk menakut-nakuti rakyat. Tetapi rakyat tidak takut dan
muncullah seorang pemimpin gerilya yakni S. Papare.
Perlawanan
ini dipimpin oleh Simson. Dalam
perlawanan rakyat di Papua, terjadi hubungan kerja sama antara gerilyawan
dengan pasukan penyusup Sekutu sehingga rakyat mendapatkan modal senjata dari
Sekutu.
10. Gerakan
bawah tanah
Sebenarnya
bentuk perlawanan terhadap pemerintah Jepang yang dilakukan rakyat Indonesia
tidak hanya terbatas pada bentuk perlawanan fisik saja tetapi Anda dapat pula
melihat betnuk perlawanan lain/gerakan bawah tanah seperti yang dilakukan oleh:
·
Kelompok Sutan Syahrir di
daerah Jakarta dan Jawa Barat dengan cara menyamar sebagai pedagang nanas di
Sindanglaya.
·
Kelompok Sukarni, Adam Malik dan
Pandu Wiguna. Mereka berhasil menyusup sebagai pegawai kantor pusat propaganda
Jepang Sendenbu (sekarang kantor berita Antara).
·
Kelompok Syarif Thayeb, Eri Sudewo
dan Chairul Saleh. Mereka adalah kelompok mahasiswa dan pelajar.
·
Kelompok Mr. Achmad Subardjo, Sudiro dan Wikana. Mereka
adalah kelompok gerakan Kaigun (AL) Jepang.
Mereka yang
tergabung dalam kelompok di bawah tanah, berusaha untuk mencari informasi dan
peluang untuk bisa melihat kelemahan pasukan militer Jepang dan usaha mereka
akan dapat Anda lihat hasilnya pada saat Jepang telah kalah dari Sekutu,
kelompok pemudalah yang lebih cepat dapat informasi tersebut serta merekalah
yang akhirnya mendesak golongan tua untuk secepatnya melakukn proklamasi.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Beberapa negara
pernah menjajah Indonesia sangat lama hingga berabad-abad, Namun ada juga
yang hanya menjajah selama beberapa tahun. Pemerintah penjajah kadang juga
berjasa dalam pembangunan beberapa fasilitas umum seperti jalan, jembatan,
perkebunan, rel kereta api, saluran irigrasi, dan beberapa fasilitas lain. Namun
penjajahan tetap saja harus dihentikan karena menimbulkan penderitaan bagi
negara yang dijajah, namun di lain pihak negara yang menjajah akan semakin
makmur.
B. Saran
Kita sebagai pemuda Indonesia
wajib menghormati jasa para pahlawan yang lebih dulu meninggalkan kita.
Hargailah mereka yang telah mengorbankan jiwa dan raganya serta berjuang mati-matian demi meraih kemerdekaan yang dapat kita rasakan pada
masa kini. Walaupun sekarang Indonesia sudah merdeka, sebagai penerus bangsa
kita masih harus berjuang demi kemajuan negeri ini. Kita harus berterima kasih
kepada para pahlawan cukup dengan cara belajar dengan sungguh-sungguh demi
kejayaan tanah air tercinta ini.
DAFTAR PUSTAKA
Komentar
Posting Komentar