KLIPING
SEJARAH PERANG SURABAYA

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata
Pelajaran Sejarah Indonesia
Nama
Kelompok :
1.
M. IMRON ROSADI
2.
M. ZAHZIRA NABILA
3.
MARIFATUL JANAH
4.
MOH. ARDIYANTO
5.
MOH. NAZARUDIN
6.
YUSFIKA DWI SIX FEBRIA
Kelas : X TKJ 2
PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH
DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
SMK NEGERI 1
SONGGOM
Jl.
Songgom – Larangan, Kec. Songgom, Kab. Brebes 52266
2020
PERTEMPURAN SURABAYA 10 NOVEMBER 1945
Pertempuran
Surabaya adalah salah satu pertempuran terbesar yang terjadi pasca kemerdekaan
Republik Indonesia. Pertempuran antara pasukan Indonesia melawan pasukan
sekutu, tidak lepas kaitannya dengan peristiwa yang mendahuluinya, yaitu
perebutan kekuasaan dan senjata tentara Jepang. Perebutan senjata telah dimulai
sejak tanggal 2 September 1945. Pada akhirnya perebutan senjata ini
membangkitkan suatu pergolakan, yang berubah menjadi situasi revolusi yang
menegangkan.
Kedatangan Sekutu di Surabaya
Pasca proklamasi
kemerdekaan, para pemuda Surabaya berhasil memperoleh senjata dari tentara
Jepang. Selain itu, gerakan pemuda juga diorganisir sedemikian rupa, sehingga
mereka siap menghadapi berbagai ancaman yang datang dari mana pun.
Pada
tanggal 25 Oktober 1945, Brigade 49 dari Divisi 23 Sekutu yang berkekuatan
sekitar 5.000 tentara mendarat di Surabaya di bawah pimpinan Brigadir Aulbertin
Walter Sothern Mallaby. Setibanya di Surabaya, mereka segera masuk ke dalam
kota dan mendirikan pos pertahanan di delapan tempat.
Awalnya, mereka
ingin segera melucuti semua persenjataan yang telah dikuasai rakyat, namun
karena memperoleh tetangan keras dari pemimpin Indonesia di Surabaya, akhirnya
mereka mengalah.
Tanggal 26 Oktober
1945, dicapai kesepakatan antara pimpinan Indonesia dengan Brigadir Mallaby,
yang isinya antara lain:
- Yang
dilucuiti senjata-senjatanya hanya Tentara Jepang.
- Tentara
Inggris selaku wakil sekutu akan membantu Indonesia dalam pemeliharaan
keamanan dan perdamaian.
- Setelah
semua senjata Tentara Jepang dilucuti, mereka akan diangkut melalui laut.
Meskipun kesepakatan
baru saja tercapai, Sekutu justru mengingkarinya. Pada malam hari tanggal 26
Oktober 1945, Sekutu menyerang penjara Kalisolok. Tentara Sekutu membebaskan
Kolonel Huiyer, seorang perwira Belanda beserta beberapa tentara Belanda yang
ditawan pasukan Indonesia.
Pada
tanggal 27 Oktober pukul 11.00 pagi, sebuah pesawat Dakota melintas dari
Jakarta, atas perintah Mayjen Hawthorn pesawat itu menyebarkan pamflet yan
isinya adalah perintah penyerahan senjata yang dimiliki rakyat Indonesia kepada
Tentara Sekutu.
Dalam waktu 2×24 jam
seluruh senjata harus sudah diserahkan, dan bagi yang masih membawa senjata
melewati batas waktu itu akan ditembak di tempat. Hal ini jelas bertentangan
dengan kesepakatan sehari sebelumnya, yang telah disetujui Mallaby.
Dikabarkan Mallaby
sempat terkejut dengan adanya pamflet tersebut, tetapi ia tetap mematuhi
perintah pimpinannya di Jakarta, dan segera memerintahkan pasukannya untuk
melucuti senjata rakyat Surabaya. Rakyat Surabaya menilai pihak Inggris telah
melanggar perjanjian. Akhirnya, pimpinan militer di Surabaya memberikan
perintah untuk menyerbu seluruh pos pertahanan Inggris.
Pada
saat yang hampir bersamaan para pemimpin Nahdlatul Ulama dan Masyumi menyatakan
bahwa perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia adalah Perang Sabil, maka
suatu kewajiban yang melekat pada semua muslim. Para Kyai dan santri kemudian
mulai bergerak dari pesantren-pesantren di Jawa Timur menuju ke Surabaya.
Rakyat Surabaya Menyerbu Sekutu
Serangan
total dilakukan tanggal 28 Oktober 1945, pukul 04.30 pagi. Delapan pos
pertahanan Sekutu diserbu sekitar 30.000 rakyat bersenjata api, dan ditambah
sekitar 100.000 rakyat bersenjata tajam. Setelah digempur secara total, tentara
Sekutu yang tidak siap bertempur, mengibarkan bendera putih dan memohon untuk
berunding.
Tercatat
korban pertempuran yang berlangsung tanggal 28-29 Oktober, Inggris mencatat 18
perwira dan 374 serdadu tewas, luka-luka, dan hilang. Sementara di pihak
Indonesia, sekitar 6000 orang tewas, luka-luka, dan hilang. Kapten R. C
Smith menulis, Mallaby saat itu menyadari apabila petempuran dilanjutkan
mereka akan disapu bersih.
Dalam
posisi yang terdesak Inggris menghubungi pimpinan Indonesia di Jakarta. Mereka
sadar, tidak ada jalan lain selain meminta bantuan pimpinan Indonesia di
Jakarta, untuk menyelamatkan nyawa ribuan tentara Inggris yang sudah terkepung.
Sore
hari tanggal 29 Oktober, Presiden Soekarno, Wakil Presiden Moh. Hatta, dan
Menteri Penerangan Amir Syarifuddin tiba di Surabaya dengan menumpang pesawat
militer Inggris. Hari itu juga Presiden bertemu dengan Mallaby di gubernuran.
Malam itu dicapai kesepakatan yang tertuang dalam Armistic Agreement regarding the Surabaya-incident: a provisional
agreement between President Soekarno of the Republic Indonesia and Brigadie
Mallaby, Concluded on the 29 October 1945.
Mengenai hal lain
dirundingkan dengan Mayjen Hawthorn, yang datang ke Surabaya pada tanggal 30
Oktober. Berikut beberapa hasil kesepakatan yang diperoleh pada tanggal 30
Oktober, antara pemimpin Indonesia dan pemimpin pasukan Sekutu di Indonesia:
- Pamflet
yang ditanda tangani Mayjen Hawthorn dinyatakan tidak berlaku.
- Tentara
Keamanan Rakyat (TKR) dan polisi diakui oleh sekutu.
- Seluruh
kota Surabaya tidak dijaga lagi oleh Sekutu, kecuali kamp-kamp tawanan
dijaga tentara Sekutu bersama TKR.
- Untuk
sementara waktu Tanjung Perak dijaga bersama TKR, polisi, dan tentara
Sekutu untuk menyelesaikan tugas menerima obat-obatan untuk tawanan
perang.
Hasil perundingan
untuk menyelamatkan pasukan Mallaby dari kekalahan total dipertegas oleh
menteri penerangan sebagai berikut:
- Pembentukan
suatu Kontak Biro yang terdiri dari unsur pemerintah RI di Surabaya
bersama-sama tentara Inggris.
- Daerah
pelabuhan dijaga bersama, yang ditentukan kedudukan masing-masing oleh
Kontak Biro.
- Daerah
Darmo, daerah kamp interniran orang-orang Eropa dijaga oleh sekutu.
Hubungan antara daerah Darmo dan pelabuhan Tanjung Perak diamankan, untuk
mempercepat proses pemindahan tawanan.
- Tawanan
dari kedua belah pihak harus dikembalikan kepada masing-masing pihak.
Pada
perundingan itu juga disepakati nama-nama anggota Kontak Biro dari kedua belah
pihak. Dari Inggris ada 5 orang (Brigjen Mallaby, Kolonel L. H.O Pugh, Wing
Commander Groom, Mayor M. Hudson, dan Kapten H. Shaw). Dari pihak Indonesia 9
perwakilan (Residen Sudirman, Doel Arnowo, Atmaji, Mohammad, Soengkono,
Soeyono, Koesnandar, Roeslan Abdulgani, dan T. D Kundan selaku juru
bahasa). Pasca tercapainya kesepakatan Presiden Soekarno beserta rombongan
kembali ke Jakarta pada pukul 13.00.
Tewasnya Mallaby
Pasca
Presiden dan rombongan kembali ke Jakarta, di beberapa tempat masih terjadi
pertempuran, sekali pun sudah diumumkan genjatan senjata. Untuk menghentikan
pertempuran, para anggota Kontak Biro dari kedua belah pihak mulai mendatangi
lokasi-lokasi yang masih terjadi pertempuran.
Pada pukul 17.00,
tanggal 30 Oktober, seluruh anggota Kontak Biro pergi bersama-sama menuju satu
lokasi pertempuran. Tempat terakhir ini adalah Gedung Bank Internatio di
Jembatan Merah. Gedung ini masih diduduki pasukan Inggris, dan pemuda-pemuda
masih mengepungnya.
Setibanya di lokasi
pertempuran, pemuda-pemuda menuntut supaya pasukan Mallaby menyerah. Mallaby
tidak bisa menerima tuntutan itu. Setelah penolakan tersebut, terjadi insiden
baku tembak yang mengakibatkan tewasnya Mallaby, Komadan Brigade 49 di
Surabaya. Inggris menyalahkan pihak Indonesia yang telah melanggar gencatan
senjata dan membunuh Mallaby.
Mobil
Mallaby terbakar terkena ledakan granat
Dari
berbagai kesaksian mantan perwira Inggris di tempat kejadian, ternyata yang
memulai tembakan adalah pihak Inggris, sesuai kesaksian Mayor Gopal tahun 1974.
Penyebab tewasnya Mallaby sendiri masih menjadi misteri. Ada yang mengatakan
tertusuk bayonet dan bambu runcing pemuda, namun berdasarkan surat dari Kapten
Smith kepada Parrot tahun 1973-1974, kemungkinan besar Mallaby terbunuh karena
ledakan granat yang dilempar pengawalnya sendiri.
Reaksi Sekutu Pasca Terbunuhnya
Mallaby
Pasca
tewasnya Mallaby, baik Letnan Jenderal Christison, panglima AFNEI atau pun
Mayor Jenderal Mansergh menyatakan, pihak Indonesia telah melanggar genjatan
senjata dan secara licik membunuh Brigjend Mallaby. Dengan tuduhan tersebut,
Inggris memperoleh alasan untuk memenuhi perjanjiannya dengan Belanda, yaitu
membersihkan kekuatan bersenjata Indonesia.
Pihak
Inggris menuntut pertanggung jawaban pihak Indonesia. Pada tanggal 31 Oktober
1945, Letnan Jenderal Christison, memperingatkan kepada rakyat Surabaya untuk
menyerah, apabila tidak mereka akan dihancurkan. Rakyat Surabaya tidak mau
memenuhi tuntutan tersebut, Kontak Biro Indonesia mengumumkan bahwa kematian
Mallaby merupakan suatu kecelakaan.
Setelah mendapat
penolakan, Divisi 5 Inggris yang berkekuatan 24.000 tentara di bawah komando
Mayjend R. C. Mansergh mendarat secara diam-diam di Surabaya. Selain diperkuat
oleh sisa Brigade 49, masih ditambah 1500 marinir, di bawah komando Rear
Admiral Sir W. R. Patterson yang memimpin beberapa kapal perang. Letjen Sir
Philip Christison, melengkapi pasukan Inggris dengan pesawat tempur
Thunderbolt, Mosquito, dan tank kelas Sherman, yang merupakan persenjataan
tercanggih saat itu.
Kemudian,
pada tanggal 7 November, Mansergh menulis surat kepada gubernur Soeryo, yang
isinya menuduh gubernur tidak mampu menguasai keadaan, akibatnya seluruh kota
dikuasai oleh perampok. Mereka dianggap menghalangi tugas sekutu, untuk itu
Sekutu mengancam akan menduduki kota Surabaya. Serta memanggil Gubernur Soeryo
untuk menghadap.
Dalam
surat jawabannya tanggal 9 November, Gubernur membantah semua tuduhan Mansergh.
Gubernur Soeryo mengutus Residen Sudirman dan Roeslan Abdulgani untuk
menyampaikan surat balasan tersebut.
Di
hari yang sama pukul 14.00, Mansergh menyampaikan ultimatum di Surabaya. Butir
kedua dalam ultimatum itu diformulasikan sedimikian rupa sehingga mustahil
untuk dipenuhi pemimpin sipil dan militer Indonesia. Berikut isi dari
ultimatum dari Mansergh:
Seluruh pimpinan Indonesia, termasuk pimpinan gerakan pemuda, kepala polisi,
dan kepala radio Surabaya harus melapor ke Bataviaweg tanggal 9 November pukul
18.00. Mereka harus berbaris satu persatu membawa segala jenis senjata yang
mereka miliki. Senjata tersebut harus diletakkan di tempat yang berjarak 100
yard dari tempat pertemuan, setelah itu orang-orang Indonesia harus datang
dengan tangan di atas kepala mereka, dan akan ditahan, dan harus siap untuk
menandatangani pernyataan menyerah tanpa syarat.
Bagi pemuda-pemuda
bersenjata diharuskan menyerahkan senjatanya dengan berbaris dan membawa bendera
putih. Batas waktu yang ditentukan adalah pukul 06.00 pagi tanggal 10 November
1945. Apabila tidak diindahkan Inggris akan mengerahkan seluruh kekuatan darat,
laut, dan udara untuk menghancurkan Surabaya.
Persiapan Menghadapi Sekutu dan
Penolakan Ultimatum
Mendapatkan
ultimatum sedemikian rupa, para pemuda yang sudah siap siaga membuat pertahanan
di dalam kota. Komandan Pertahanan Kota, Soengkono, pada tanggal 9 November
pukul 17.00 mengundang semua unsur kekuatan rakyat, yang terdiri dari komandan
TKR, PRI, BPRI, Tentara Pelajar, Polisi Istimewa, BBI, PTKR, TKR Laut untuk
berkumpul di Markas Pregolan 4.
Tentara
Keamanan Rakyat di Surabaya
Soengkono
mempersilahkan siapa pun yang ingin meninggalkan kota. Namun, mereka bertekad
untuk mempertahankan kota Surabaya. Mereka membubuhkan tanda tangan pada
secarik kertas sebagai tanda setuju, dan diteruskan dengan ikrar bersama.
Dengan
adanya ultimatum ini, pemimpin Surabaya mengadakan pertemuan. Mereka melaporkan
kepada presiden, namun hanya diterima oleh Menteri Luar Negeri Ahmad Subardjo.
Menteri luar negeri menyerahkan keputusan kepada rakyat Surabaya. Secara resmi
pada pukul 22.00, Gubernur Soeryo melalui radio, menyatakan menolak ultimatum
Inggris.
Sebelum
waktu ultimatum habis, kota Surabaya telah dibagi menjadi 3 sektor pertahanan.
Garis pertahanan ditentukan dari JalanJakarta, tetapi penempatan pasukan agak
mundur ke Krembangan, Kapasan, dan Kedungcowek. Garis kedua di sekitar Viaduct.
Garis ketiga di daerah Darmo.
Bung
Tomo mengobarkan semangat pejuang Indonesia
Pembagian
tiga sektor meliputi sektor barat, sektor tengah, dan timur. Sektor barat
dipimpin oleh Koenkiyat. Sektor tengah dipimpin oleh Kretarto, dan Marhado,
sedangkan sektor timur dipimpin oleh Kadim Prawirodihardjo. Sementara itu, radio
perlawanan yang dipimpin oleh Bung Tomo membakar semangat juang rakyat. Siaran
ini dipancarkan dari Jln. Mawar No. 4.
Klimaks Pertempuran Surabaya: Pertempuran 10
November
Tanggal
10 November 1945 pukul 06.00, setelah habisnya waktu ultimatum, Inggris mulai
menggempur Surabaya dengan seluruh armada darat, laut, dan udara. Pemboman
secara brutal di hari pertama telah menimbulkan korban yang sangat besar. Di
pasar Turi, ratusan orang tewas dan luka-luka. Inggris juga berhasil menguasai
garis pertama pertahanan rakyat Surabaya.
Tank
Inggris menggempur Surabaya
Rakyat
Surabaya tidak tinggal diam, mereka melakukan perlawanan atas serangan
tersebut. Pertempuran yang tidak seimbang selama tiga minggu telah
mengakibatkan sekitar 20.000 rakyat Surabaya menjadi korban, sebagian besar
adalah warga sipil. Selain itu, diperkirakan 150.000 orang terpaksa
meninggalkan kota Surabaya, yang hampir hancur total terkena serangan Sekutu.
Sementara di pihak Inggris tercatat 1.500 tentara Inggris tewas, hilang, dan
luka-luka.
Pertempuran
terakhir terjadi di Gunungsari, pada tanggal 28 November 1945, namun perlawanan
secara sporadis masih dilakukan setelah itu. Sebagai penghormatan atas jasa
para pahlawan yang dengan berperang dengan gigih melawan Sekutu di Surabaya,
tanggal 10 November 1946 Soekarno menetapkan tanggal 10 November sebagai Hari
Pahlawan.
Tindakan Inggris
untuk menghukum pasukan Indonesia di Surabaya, dianggap Mansergh sebagai
hukuman yang pantas atas pelanggaran terhadap peradaban. Akan tetapi, tindakan
yang dilakukan oleh Inggris pada tanggal 10 November, justru mencerminkan
tindakan pelanggaran terhadap peradaban dan kemanusiaan secara nyata. Kematian
Mallaby seakan hanya dijadikan Casus Belli, untuk
menghancurkan kekuatan militer Indonesia di Surabaya.
Selain itu,
pertempuran Surabaya, dimanfaatkan untuk memenuhi perjanjian bilateral mereka
dengan Belanda serta menjalankan keputusan Konferensi Yalta yakni pengembalian
situasi pada Status Quo, seperti sebelum invasi
Jepang.
Pertempuran
Surabaya berakhir dengan kekalahan pihak Indonesia. Akan tetapi, perang
tersebut membuktikan bahwa rakyat Indonesia rela berkorban demi mempertahankan
kemerdekaan mereka, meskipun harus dibayar dengan nyawa.




Komentar
Posting Komentar