MAKALAH
PERKEMBANGAN ISLAM DI
MALUKU
Disusun Oleh :
KELOMPOK 5
1.
ADE IRMA FITRIANINGSIH (02)
2.
M. FARHAN (14)
3.
REZMA WINDIYANI (21)
4.
SITI NUR HIKMAH (26)
5.
SULISTIAWATI (28)
KELAS : XII 8
PEMERINTAH
PROVINSI JAWA TENGAH
DINAS PENDIDIKAN
DAN KEBUDAYAAN
SEKOLAH MENENGAH ATAS
(SMA) NEGERI 1 PAGERBARANG
Pagerbarang,
Tegal, Jawa Tengah 52462
2020
KATA PENGANTAR
Puji
syukur Kehadirat Allah SWT yang masih memberi kemampuan kepada
kami untuk menyelesaikan secara tuntas Penyusunan makalah yang berjudul
“PERKEMBANGAN ISLAM DI MALUKU” dalam rangka mengembangkan kompetensi,
membangun karakter dan budaya bangsa.
Suatu
kebahagiaan tersendiri bagi kami bisa mengimlementasikan apa yang ada di benak
sanubari kami yang berupa idealisme kami dalam rangka ikut mencerdaskan
kehidupan bangsa.
Di
sisi lain kami harus berfikir dan bekerja keras karena dituntut untuk selalu
menyesuaikan dengan kebutuhan agar makalah yang kami susun ini ada manfaatnya
bagi siswa-siswi sebagai generasi bangsa yang cerdas serta berbudi
pekerti yang luhur, menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsa.
Berdasarkan nilai-nilai luhur yang tersirat pada butir-butir Pancasila sebagai
dasar negara Indonesia.
November
2017
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ........................................................................................... i
DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
A.
Latar Belakang....................................................................................... 1
B.
Rumusan Masalah.................................................................................. 1
C.
Tujuan..................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN......................................................................................... 2
A.
Sejarah Perkembangan Islam di Kepulauan
Maluku.............................. 2
B.
Kerajaan Islam Di Maluku..................................................................... 3
C.
Raja-Raja di Kerajaan Maluku.............................................................. 5
D.
Masa Kejayaan Ternate dan Tidore........................................................ 5
BAB III PENUTUP................................................................................................. 6
A.
Kesimpulan............................................................................................. 6
B.
Saran....................................................................................................... 6
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................. 7
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembahasan mengenai kajian sejarah islam Indonesia mendapat porsi yang
besar, tetapi terlihat sekali bahwa ia belum termasuk dalam satu kesatuan
kajian sejarah peradaban islam. kalau empat kawasan budaya islam tersebut
termasuk dalam kajian sejarah peradaban dunia islam, maka Indonesia di bahas di
bagian tersendiri. Sejak 17 tahun sesudah rasulullah wafat, cengkeh adalah
salah satu rempah-rempah yang amat menarik hati sejak dari abad ke tujuh.
Maluku adalah tempat tumbuh sendirinya rempah-rempah yang berada di hutan dan
akhirnya ditanami oleh penduduk secara teratur. Di zaman dahulu kala mereka
masih menganut semacam agama syamman yang memuja roh nenek moyang. Sepintas
lalu kita akan menolak saja dongeng yang demikian. Tetapi jika kita berfikir
bahwasannya di dalam abad kesepuluh dan kesebelas itu sudah damai perniagaan
cengkeh ke Maluku itu oleh orang arab dan persi, tidaklah jauh kemungkinan
bahwa mereka telah datang kesana pada waktu itu.
B.
Rumusan Masalah
1. Apa saja kerajaan Islam yang ada di Maluku?
2. Siapa raj-raja yang pernah memerintah di kerajaan Ternate dan Tidore?
3. Bagaimana masa kejayaan di kerajaan Ternate dan Tidore?
C. Tujuan
1. Memenuhi tugas mata pelajaran Sejarah.
2. Menambah pengetahuan tentang perkembangan islam di Maluku.
3. Mengetahui sejarah kerajaan – kerajaan islam terutama di Maluku.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Perkembangan Islam di Kepulauan Maluku
Diperkirakan sejak awal berdirinya kerajaan Ternate masyarakat Ternate
telah mengenal Islam mengingat banyaknya pedagang Arab yang telah bermukim di
Ternate kala itu. Beberapa raja awal Ternate sudah menggunakan nama bernuansa
Islam namun kepastian mereka maupun keluarga kerajaan memeluk Islam masih
diperdebatkan. Hanya dapat dipastikan bahwa keluarga kerajaan Ternate resmi
memeluk Islam pertengahan abad ke-15.
Penduduk lokal Kampung Wawane, Provinsi Maluku, merupakan penganut
animisme. Lalu seabad kemudian, hal tersebut mulai berubah seiring
dengan kedatangan pedagang Jawa ke provinsi ini. Pedagang-pedagang Jawa ini
tidak hanya berdagang, namun juga menyebarkan ajaran Islam. Mereka mencoba
mengenalkan Islam kepada masyarakat lokal di Maluku, dan kepercayaan animisme
sedikit demi sedikit mulai memudar di Kampung ini.
Kedatangan Empat Perdana merupakan awal datangnya manusia di Tanah Hitu
sebagai penduduk asli Pulau Ambon. Empat Perdana Hitu juga merupakan
bagian dari penyiar Islam di Maluku. Kedatangan Empat Perdana merupakan
bukti sejarah syiar Islam di Maluku yang di tulis oleh penulis
sejarah pribumi tua maupun Belanda dalam berbagai versi seperti Imam Ridjali,
Imam Lamhitu, Imam Kulaba, Holeman, Rumphius dan Valentijn.
Raja ternate pertama yang diketahui memeluk agama islam adalah Raja Kolano
Marhum dan diikuti oleh seluruh kerabat dan pejabat istana. Sepeninggal beliau,
kerajaan ternate dipimpin oleh putranya Zainal Abidin (1486-1500) yang memakai
gelar sultan. Sejak kepemimpinan Sultan Zainal Abidin agama islam diakui
sebagai agama resmi kerajaan dan diberlakukannya syariat islam. Kemudian beliau
membentuk lembaga kerajaan sesuai hokum islam dengan melibatkan para ulama.
Langkah-langkahnya ini kemudian diikuti kerajaan lain di Maluku secara total,
hampir tanpa perubahan. Ia juga mendirikan madrasah yang pertama di Ternate.
Sultan Zainal Abidin pernah memperdalam ajaran Islam dengan berguru
pada Sunan Giri di pulau Jawa, disana beliau dikenal sebagai "Sultan
Bualawa" (Sultan Cengkih).
Terkenal dengan daerahnya yang subur dan merupakan penghasil rempah-rempah
terbesar, kepulauan Maluku banyak didatangi pedagang-pedagang, diantaranya
pedagang-pedagang islam. Kedatangan para pedagang islam di Maluku, secara tidak
langsung membuat agama islam tersebar melalui jalur perdagangan yang
selanjutnya disebarkan oleh para mubaligh atau ulama yang salah satunya berasal
dari pulau jawa.
Perkembangan Islam di Maluku selanjutnya ditandai dengan dibangunnya Masjid
Wapaue pada 1414 yang merupakan masjid tertua yang ada di Indonesia. Mesjid tua
Wapauwe ini terletak dekat dengan Benteng Amsterdam di desa Kaitetu, Kabupaten
Hila, Provinsi Maluku. Terletak di kampung Wawane, dan menurut sejarah setempat
mesjid ini dibangun saudagar-saudagar kaya yang bernama Perdana Jamillu dan
Alahulu.
Masjid ini dinamakan Masjid Wapaue karena terletak di bawah pohon mangga.
Dalam bahasa setempat, "wapa" berarti "bawah" dan
"uwe" berarti mangga. Keseluruhan bangunan masjid ini terbuat dari
kayu sagu yang dilekatkan satu sama lain tanpa menggunakan paku. Sampai saat
ini Masjid Wapaue ini masih terawat dan digunakan juga sebagai galeri museum
yang berisi koleksi-koleksi antik peninggalan kebudayaan muslim maluku kuno
antara lain Bedug yang berumur seratus tahun, Al-Quran antik yang ditulis
tangan, sebuah kaligrafi tulisan arab yang ditaruh di sebuah lempengan metal
dan sebuah timbangan kayu yang digunakan untuk menimbang zakat.
B. Kerajaan Islam Di Maluku
1.
Kerajaan Jailolo
Kerajaan Jailolo merupakan kerajaan tertua di Maluku.
Namun, karena penduduk ternate, tidore dan bacan lebih banyak maka ketiga
daerah itu lebih menonjol. Kerajaan ini berdiri sejak 1321. Wilayahnya
meliputi; sebagian Halmahera dan pesisir utara Pulau Seram. Masuknya Islam di
kerajaan ini, tidak lepas dari jasa-jasa para mubaligh; Datuk Mulia Husin,
Patih Putah dan Syekh Mansur.
2.
Kerajaan Bacan
Raja pertama dari Kerajaan Bacan adalah Sultan Zainul
Abidin yang memeluk agama Islam sejak 1521. Dalam kerajaan Bacan, seorang raja
dalam pemerintahannya didampingi oleh seorang Mangkubumi. Wilayah kekuasaanya
meliputi; Kepulauan Bacan, Obi, Waigeo, Solawati dan Irian Barat (Papua).
Raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan Jailolo yaitu;
Sultan Darajati, Fataruba, Tarakabun, Nyiru, Yusuf, Dias, Bantari, Sagi dan Sultan
Hasanuddin (memeluk Islam).
3.
Kerajaan Ternate
Pada awalnya penduduk Ternate (Pulau Gapi) merupakan warga eksodus dari Halmahera.
Awalnya, di Ternate, terdapat empat kampung yang masing-masing dikepalai oleh
seorang momole (kepala marga). Mereka itulah yang mengadakan hubungan dengan
para pedagang yang datang dari segala penjuru untuk mencari rempah-rempah.
Mereka jugalah yang mendirikan kerajaan Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo.
Penduduk ternate semakin ramai sebab banyaknya para pedagang yang bermukim
disana, mulai dari pedagang arab, jawa, melayu dan tionghoa. Dengan hal ini,
menyebabkan datangnya para perampok sehingga muncullah ide para momole untuk
mengangkat seorang raja tunggal.
Raja terpilih yaitu Baab Mashur Malamo beliau menjadikan kerajaan gapi berpusat di
kampung ternate sehingga orang-orang lebih suka mengatakan kerajaan
ternate. Berkembangnya
kerajaan Ternate menimbulkan iri hati terhadap kerajaan di sekelilingnya.
Timbullah sengketa antara Ternate dan Tidore., Bacan dan Jailolo. Dengan hal
ini,maka diadakan sebuah persetujuan yaitu Persetujuan Motir. Persetujuan ini
menyatakan bahwa Raja Jailolo akan menjadi raja utama, sebab ialah raja tertua,
diikuti raja Ternate, Tidore dan Bacan. Hal ini tidak berlangsung lama, sebab
Ternate berhasil menempatkan diri sebagai raja utama. Pada akhir abad ke-16,
Ternate berhasil meluaskan wilayah kekuasaannya.
Islam masuk di kerajaan Ternate pada waktu masa Raja
Zainal Abidin yang sempat belajar di Giri. Kemudian, setelah ia kembali di
Maluku, ia bertemu dengan Patih Puta yang sudah menganut agama Islam. Kemudian,
mereka bekerja sama dengan Mubaligh Datuk Mulia Husin untuk mengembangkan Islam
sampai ke Kerajaan Jailolo. Tak lama kemudian, Portugis datang ke Maluku. Hal
ini membangkitkan pertentangan di Ternate, baik dari segi perdagangan maupun
persaingan agama. Portugis membawa agama Kristen yang ditanamkan oleh
Franciscus Xaverius kepada rakyat Maluku. Dengan hal ini, mengakibatkan
orang-orang Tidore bisa bersatu dengan Ternate untuk melawan Portugis sehingga
jatuhlah Benteng Portugis pada tahun 1575.
4.
Kerajaan Tidore
Tidore dikenal dengan nama Kie Duko, yang diartikan sebagai pulau bergunung api. Kerajaan
tidore berpusat pada wilayah kota tidore (mauku utara). Pendiri pertama
kerajaan tidore yaitu jou kolano sahjati. Menurut catatan Portugis, Tidore berdiri sejak Jou
Kolano Sahjati naik tahta. Namun tidak diketahui pusat kerajaannya ada dimana.
Sejak awal berdirinya Tidore sampai raja ke-4, pusat Kerajaan Tidore belum bisa
dipastikan keberadaannya. Barulah pada masa raja Kolano Balibunga pusat
kerajaan diketahui yaitu di Balibunga. Di kerajaan Tidore sempat beberapa kali
terjadi perpindahan ibu kota atau pusat kerajaan, banyak sekali faktor yang
mempengaruhinya mulai dari pergantiannya seorang raja, wilayahnya yang luas
bahkan menjauhi dari serangan para musuh serta untuk tujuan dakwah.
Pada tahun 1521, Sultan Mansur di Tidore menerima
Spanyol sebagai sekutu untuk mengimbangi Ternate yang bersekutu dengan
Portugis. Kedatangan Spanyol diprotes oleh Portugis karena dianggap telah
melanggar Perjanjian Tordesillas pada 1494. Pertikaian Portugis dan
Spanyo memperlemah kedudukan Tidore dan Ternate, misalnya perebutan Benteng
Spanyol di Tidore. Akhirnya, pertikaian ini di akhiri dengan adanya pembaharuan
Perjanjian Tordesillas yang mempertegas bahwa kepulauan Maluku menjadi
kekuasaan Portugis.
Setelah Spanyol mundur dari Maluku, Tidore menjadi
kerajaan yang paling terkemuka di wilayah Maluku. Sebab, Tidore berhasil
menolak penguasaan VOC terhadap wilayahnya dan Tidore menjadi merdeka hingga
akhir abad ke-18. Selain kedatangan Spanyol, Belanda juga datang untuk
menguasai Maluku. Inggris pun ikut campur dalam masalah ini dengan membantu
mengusir Belanda. Hal ini,terjadi pada masa raja Sultan Nuku. Sultan Nuku
memberi kebebasan kepada Inggris untuk menguasai Ambon dan Banda serta
mengadakan perjanjian damai dengannya.
C. Raja-Raja di Kerajaan Maluku
Adapun raja-raja di kerajaan Ternate
sebagai berikut:
1. Baab Mashur Malamo
2. Jamin Qadrat
3. Komala Abu Said
4. Bakuku (Kalabata)
5. Ngara Malamo (Komala)
6. Patsaranga Malamo
7. Cili Aiya (Siding Arif Malamo)
8. Panji Malamo
9. Syah Alam
10. Tulu Malamo, Dll.
Adapun raja-raja di Kerajaan Tidore sebagai berikut:
1. Sultan Nuruddin
2. Sultan Hasan Syah
3. Sultan Cirililiat Alias Jamluddin
4. Sultan Mansyur
5. Sultan Aminuddin Iskandar Zulkarnain
6. Sultan Rijali Mansur
7. Sultan Iskandar Isani Alias Amiril Mathlan Syah
8. Sultan Gapi Babuna Alias Bifadlil Siradjuddin Arifin
9. Sultan Fola Madjino Alias Zainuddin
10. Sultan Ngora Malamo Alias Alaudin, Dll.
D. Masa Kejayaan Ternate dan Tidore
1.
Masa Kejayaan Kerajaan Ternate
Kerajaan Ternate berada pada masa kejayaan saat
dipimpin oleh Sultan Baabullah yang dapat meluaskan wilayah kekuasaanTernate
yaitu meliputi; batas-batas di utara sampai Mindanao, di Selatan sampai Bima,
di Timur sampai Irian Barat (Irian Jaya) dan di sebelah Barat sampai Makassar.
2.
Masa kejayaan kerajaan Tidore
Pada masa Sultan Nuku, Kerajaan Tidore berkembang
dengan pesat. Mulai dari wilayah kekuasaannya yang mencapai Kepulauan Pasifik.
Menurut catatan sejarah Tidore, Sultan Nuku yang member nama pulau-pulau
wilayah kekuasannya, adapun nama-nama pulau yang hingga saat ini masih memakai
nama Nuku yaitu; Nuku Hifa, Nuku Oro, Nuku Maboro, Nuku Nau, Nuku Lae-Lae, Nuku
Fetau dan Nuku Nono.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kedudukan raja Islam di Maluku semakin tinggi dan penting berkat
perdagangan rempah-rempah yang menyebabkan rasa semangat untuk memperluas
wilayah kekuasaannya dalam menguasai jalur perdagangan. Kerajaan-kerajaan yang
berada di Maluku ada 4 yaitu: Kerajaan Jailolo, Kerajaan Bacan, Kerajaan Ternate,
Kerajaan Tidore. Setelah Spanyol mundur dari Maluku, Tidore menjadi kerajaan yang paling
terkemuka di wilayah Maluku. Sebab, Tidore berhasil menolak penguasaan VOC
terhadap wilayahnya dan Tidore menjadi merdeka hingga akhir abad ke-18. Selain
kedatangan Spanyol, Belanda juga datang untuk menguasai Maluku. Inggris pun
ikut campur dalam masalah ini dengan membantu mengusir Belanda.
B.
Saran
Kita perlu mempelajari sejarah kerajaan – kerajaan islam. Dan kita
perlu mengembangkan wawasan kita tentang sejarah karena itu termasuk hal
penting.
DAFTAR PUSTAKA
Abimanyu, Soedjipto. (2014). Kitab
Sejarah Terlengkap Kearifan Raja-Raja Nusantara. Cet. 1.
Jogjakarta: Laksana.
Daliman. A. 2012. Islamisasi Dan
Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Islam Di Indonesia. Yogyakarta: Ombak.
Hamka. (1981). Sejarah
Umat Islam Jilid IV. Cet. 3. Jakarta: Bulan Bintang
Yatim, Badri. (2010). Sejarah
Peradaban Islam. Cet. 22. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Komentar
Posting Komentar