SEJARAH
KABUPATEN BREBEShttps://drive.google.com/open?id=1fN_QdZwULN4zcyYDOjk-9VGPlpP99X26
Ada beberapa pendapat mengenai asal - usul nama
"Brebes" yang di antaranya
berasal dari kata "Bara" dan "Basah", bara
berarti hamparan tanah luas dan basah berarti banyak
mengandung air. Keduanya cocok dengan keadaan daerah "Brebes" yang merupakan dataran luas yang berair. Karena
perkataan bara di ucapkan "bere" sedangkan basah di
ucapkan "besah" maka untuk mudahnya di ucapkan "Brebes". Dalam Bahasa Jawa perkataan "Brebes atau mrebes"
yang berarti tansah metu banyune yang berarti "Selalu keluar
airnya".
Nama "Brebes" muncul sejak zaman Mataram. Kota ini berderet dengan kota-kota tepi pantai lainnya seperti Pekalongan, Pemalang,
dan Tegal. Brebes pada
saat itu merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Tegal.
Pada tanggal 17 Januari
1678 di Jepara diadakan pertemuan
Adipati Kerajaan Mataram se-Jawa Tengah, termasuk Arya Martalaya, Adipati
Tegal dan Arya Martapura, Adipati Jepara. Karena tidak
setuju dengan acara penandatanganan naskah
kerjasama antara Amangkurat Admiral dengan Belanda terutama dalam menumpas pemberontakan Trunajaya dengan
imbalan tanah-tanah milik Kerajaan Mataram, maka terjadi perang tanding antara
kedua adipati tersebut. Peristiwa berdarah ini merupakan awal mula
terjadinya Kabupaten Brebes dengan Bupati berwenang.
Sehari setelah peristiwa berdarah tersebut
yaitu tanggal 18 Januari 1678, Sri Amangkurat II yang berada di Jepara mengangkat
beberapa Adipati / Bupati sebagai pengagganti Adipati-adipati yang gugur. Untuk
kabupaten Brebes di jadikan kabupaten mandiri dengan adipati
Arya Suralaya yang merupakan adik dari Arya Martalaya.
Pengangkatan Arya Suralaya sekaligus titimangsa pemecahan
Kadipaten Tegal menjadi dua bagian yaitu Timur tetap di sebut Kadipaten
Tegal dan bagian barat di sebut Kabupaten
Brebes.
Brebes Geografi
Kabupaten
Brebes terletak di bagian Utara paling Barat Provinsi Jawa Tengah, di
antara koordinat 108° 41'37,7" - 109° 11'28,92" Bujur
Timur dan 6° 44'56'5" - 7° 20'51,48 Lintang Selatan dan
berbatasan langsung dengan wilayah Provinsi Jawa Barat. Penduduk Kabupaten
Brebes mayoritas menggunakan bahasa Jawa yang yang mempunyai ciri khas yang
tidak dimiliki oleh daerah lain, biasanya disebut dengan Bahasa Jawa Brebes.
Namun terdapat Kenyataan pula bahwa sebagian penduduk Kabupaten Brebes juga bertutur
dalam bahasa Sunda dan banyak nama tempat yang dinamai dengan bahasa Sunda
menunjukan bahwa pada masa lalu wilayah ini adalah bagian dari wilayah Sunda.
Daerah yang masyarakatnya sebagian besar menggunakan bahasa Sunda atau biasa
disebut dengan Bahasa Sunda Brebes, adalah meliputi Kecamatan Salem,
Banjarharjo, Bantarkawung, dan sebagian lagi ada di beberapa desa di Kecamatan
Losari, Tanjung, Kersana, Ketanggungan dan Larangan.
Berdasarkan naskah
kuno primer Bujangga Manik (yang menceriterakan perjalanan Prabu
Bujangga Manik, seorang pendeta Hindu Sunda yang mengunjungi tempat-tempat
suci agama Hindu di pulau Jawa dan Bali pada awal abad ke-16), yang saat ini
disimpan pada Perpustakaan Boedlian, Oxford University, Inggris sejak
tahun 1627, batas Kerajaan Sunda di sebelah timur adalah Ci Pamali (sekarang
disebut sebagai Kali Brebes atau Kali Pemali yang
melintasi pusat kota Brebes) dan Ci Serayu (yang
saat ini disebut Kali Serayu) di Provinsi Jawa
Tengah.
Ibukota
kabupaten Brebes terletak di bagian timur laut wilayah kabupaten. Kota Brebes
bersebelahan dengan Kota Tegal, sehingga kedua kota ini dapat dikatakan "menyatu".
Brebes merupakan kabupaten yang cukup luas di Provinsi Jawa Tengah. Sebagian
besar wilayahnya adalah dataran rendah. Bagian barat daya merupakan dataran
tinggi (dengan puncaknya Gunung Pojok tiga dan Gunung Kumbang), sedangkan
bagian tenggara terdapat pegunungan yang merupakan bagian dari Gunung Slamet.
Dengan iklim tropis, curah hujan rata-rata 18,94
mm per bulan. Kondisi itu menjadikan kawasan tesebut sangat potensial
untuk pengembangan produk pertanian seperti tanaman padi,
hortikultura, perkebunan, perikanan, peternakan dan sebagainya.
ASAL USUL DAN SEJARAH KOTA SEMARANG
Sejarah
Kota Semarang dimulai sejak abad ke-8 Masehi, daerah pesisir utara yang bernama
Pragota (sekarang bernama Bergota) merupakan bagian dari Kerajaan Mataram Kuno.
Sebenarnya daerah tersebut merupakan pelabuhan yang di depannya terdapat banyak
pulau-pulai kecil. Dikarenakan pengendapan yang kian banyak hingga sekarang,
akhirnya membentuk sebuah daratan.
Pelabuhan
masa lampau itu diperkirakan berada di daerah Pasar Bulu yang memanjang ke
Simongan. Di daerah itu terdapat sebuah tempat keberadaan armada milik
Laksamana Cheng Ho (1405 M). Pendaratan kapal milik Laksamana Cheng Ho di
bangun sebuah kelenteng dan masjid yang sekarang dinamakan Kelenteng Sam Po
Kong.
Suatu
hari (Abad 15 M), ada seorang Pangeran dari Demak yang menyebarkan Islam ke
daerah Pragota, bernama Pangeran Made Pandan. Dari waktu ke waktu, daerah
tersebut semakin subur dengan banyaknya pepohonan dan rerumputan yang tumbuh
lebat, dari sela-sela kesuburan tanaman itu muncullah pohon asam arang,
kemudian daerah itu di sebut Semarang.
Pangeran
Made Pandan di sebut sebagai pendiri desa, karena kinerjanya yang baik beliau
di percaya menjadi kepala daerah setempat, dengan gelar Kyai Ageng Pandan Arang
I. Sepeninggalnya memimpin daerah, digantikan langsung oleh putranya yang
bergelar Pandan Arang II atau lebih dikenal dengan Sunan Bayat. Di bawah
pimpinan Kyai Ageng Pandan Arang II, Semarang semakin jaya, sehingga Sultan
Hadiwijaya dari Pajang menarik simpati kepadanya.
Karena
persyaratan Semarang menjadi Kabupaten telah terpenuhi, maka oleh Sultan
Hadiwijaya yang sudah berkonsultasi dengan Sunan Kalijaga akhirnya memutuskan
untuk menjadikan Semarang mnjadi Kabupaten. Pengangkatan Semarang menjadi
Kabupaten tersebut bertepatan dengan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW (12
rabiul awal 954 H), hingga tanggal 2 Mei kemudian ditetapkan sebagai hari jadi
kota Semarang.
Pada
tahun 1678 M, Amangkurat II dari Mataram telah berjanji kepada VOC untuk
memberikan wilayah Semarang sebagai ganti dari hutangnya. Amangkurat II
mengklaim bahwa daerah Priangan akan lunas jika pajak dari pelabuhan pesisir diberikan.
Hingga pada tahun 1705 M Susuhunan Pakubuwono I menyerahkan Semarang kepada VOC
atas jasanya membantu merebut Kastasura. Sejak saat itulah Semarang telah resmi
menjadi milik VOC yang telah dipimpin oleh Pemerintah Hindia Belanda.
Stanblat
Nomor 120 tahun 1906 Belanda membentuk Pemerintahan Gemeente, dimana
pemerintahan kota Semarang dikepalai oleh seorang Burgemeester (Walikota).
Sistem Pemerintahan Belanda ini hanya berlangsung singkat, kemudian pada tahun
1942 pemerintahan pendudukan Jepang datang.
Pada
masa pemerintahan Jepang, Semarang di kepalai Militer (Shico) dari Jepang dan
didampingi dua orang wakil (Fuku Shico) yakni dari Jepang dan bangsa Indonesia.
Namun, pemerintahan itu tidak juga berlangsung lama, sesudah kemerdekaan
tanggal 15 - 20 Oktober 1945 terjadilah peristiwa pemuda-pemuda Semarang
bertempur melawan balatentara Jepang yang disebut Pertempuran Lima Hari.
Hingga
pada tahun 1946, lnggris atas nama Sekutu menyerahkan kota Semarang kepada
pihak Belanda. Belanda dengan tipu muslihatnya menangkap Mr. Imam Sudjahri
(Walikota Semarang) tanggal 3 Juni 1946 sebelum proklamasi kemerdekaan. Narnun
semangat para pejuang Semarang di bidang pemerintahan masih tetap menjalankan
pemerintahan dengan baik sampai bulan Desember 1948.
Daerah
pengungsian para pejuang berpindah-pindah, mulai dari kota Grobogan, Purwodadi,
Gubug, Tegowanu, Kedungjati, Salatiga, dan akhirnya menetap di Yogyakarta.
Raden Patah, R.Prawotosudibyo dan Mr Ichsan adalah salah satu pimpinan yang
masih menjalankan pemerintahan dengan baik, hingga Belanda membuat Recomba yang
bertujuan membentuk kembali pemerintahan Gemeente seperti masa kolonial dulu
yang dipimpin oleh R Slamet Tirtosubroto.
Tetapi
hal itu tidak membuahkan hasil karena dalam masa pemulihan kedaulatan harus
menyerahkan kepada Komandan KMKB Semarang pada bulan Februari 1950. Hingga pada
tanggal 1 April 1950, Komandan KMKB, Mayor Suhardi menyerahkan kepemimpinan
pemerintah Semarang kepada Mr Koesoedibyono. Kemudain ia menyusun kembali
aparatur pemerintahan untuk semakin memperlancar jalannya pemerintahan
Semarang.
Suku Banten atau
lebih tepatnya orang Banten adalah penduduk asli yang mendiami bekas daerah
kekuasaan Kesultanan Banten di luar Parahyangan, Cirebon, dan Jakarta. Menurut
sensus Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2000, suku Banten populasinya 2,1%
dari penduduk Indonesia. ORANG Banten menggunakan bahasa Banten. Bahasa Banten
adalah salah satu dialek bahasa Sunda yang lebih dekat kepada bahasa Sunda
kuno, pada tingkatan bahasa Sunda modern dikelompokkan sebagai bahasa kasar.
Bahasa ini dilestarikan salah satunya melalui program berita Beja ti Lembur
dalam bahasa Banten yang disiarkan siaran televisi lokal di wilayah Banten.
Kata Banten
muncul jauh sebelum berdirinya Kesultanan Banten. Kata ini digunakan untuk
menamai sebuah sungai dan daerah sekelilingnya yaitu Cibanten atau sungai
Banten. Rujukan tertulis pertama mengenai Banten dapat ditemukan pada naskah
Sunda Kuno Bujangga Manik yang menyebutkan nama-nama tempat di Banten dan
sekitarnya sebagai berikut:
Tanggeran
Labuhan Ratu, Ti kaler alas Panyawung, tanggeran na alas Banten, Itu ta na
gunung (...)ler, tanggeran alas Pamekser, nu awas ka Tanjak Barat, Itu ta pulo
Sanghiang, heuleut-heuleut nusa Lampung, Ti timur pulo Tampurung, ti barat pulo
Rakata, gunung di tengah sagara. Itu ta gunung Jereding, tanggeran na alas
Mirah, ti barat na lengkong Gowong, Itu ta gunung Sudara, na gunung Guha Bantayan,
tanggeran na Hujung Kulan, ti barat bukit Cawiri. Itu ta na gunung Raksa,
gunung Sri Mahapawitra, tanggeran na Panahitan.
Dataran
lebih tinggi yang dilalui sungai ini disebut Cibanten Girang atau disingkat
Banten Girang. Berdasarkan riset yang dilakukan di Banten Girang pada 1988
dalam program Franco-Indonesian excavations, di daerah ini telah ada pemukiman
sejak abad ke 11 sampai 12 (saat kerajaan Sunda). Berdasarkan riset ini juga
diketahui bahwa daerah ini berkembang pesat pada abad ke-16 saat Islam masuk
pertama kali di wilayah ini. Perkembangan pemukiman ini kemudian meluas atau
bergeser ke arah Serang dan ke arah pantai. Pada daerah pantai inilah kemudian
didirikan Kesultanan Banten oleh Sunan Gunung Jati. Kesultanan ini seharusnya
menguasai seluruh bekas Kerajaan Sunda di Jawa Barat. Hanya saja SUnda Kalapa
atau Batavia direbut oleh Belanda sera Cirebon dan Parahyangan direbut oleh
Mataram. Daerah kesultanan ini kemudian diubah menjadi keresidenan pada zaman
penjajahan Belanda.
Orang asing
kadang menyebut penduduk yang tinggal pada bekas keresidenan ini sebagai
Bantenese yang mempunyai arti "orang Banten". Contohnya, Guillot
Claude menulis pada halaman 35 bukunya The Sultanate of Banten: "These
estates, owned by Bantense of Chinese origin, were concentrated around the
village of Kelapadua."Dia menyatakan bahwa keturunan Cina juga adalah Bantenese
atau penduduk Banten.
Hanya
setelah dibentuknya Provinsi Banten, ada sebagian orang menerjemahkan Bantenese
menjadi suku Banten sebagai kesatuan etnik dengan budaya yang unik.
Menurut
kepercayaan yang mereka anut, orang Kanekes mengaku keturunan dari Batara
Cikal, salah satu dari tujuh dewa atau batara yang diutus ke bumi. Asal usul
tersebut sering pula dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama.
Menurut kepercayaan mereka, Adam dan keturunannya, termasuk warga Kanekes
mempunyai tugas bertapa atau asketik (mandita) untuk menjaga harmoni dunia.
Namun versi
lain mengatakan bahwa masyarakat Kanekes dikaitkan dengan Kerajaan Sunda
wilayah ujung barat Pulau Jawa ini merupakan bagian penting dari Kerajaan
Sunda. Dimana Banten merupakan pelabuhan dagang yang besar dengan Sungai
Ciujung dapat dilayari berbagai jenis perahu, dan ramai digunakan untuk
pengangkutan hasil bumi dari wilayah pedalaman. Dengan demikian penguasa
wilayah tersebut yang disebut sebagai Pangeran Pucuk Umun menganggap bahwa
kelestarian sungai perlu dipertahankan. Untuk itu diperintahkanlah sepasukan
tentara kerajaan yang sangat terlatih untuk menjaga dan mengelola kawasan berhutan
lebat dan berbukit di wilayah Gunung Kendeng tersebut. Keberadaan pasukan
dengan tugasnya yang khusus tersebut tampaknya menjadi cikal bakal masyarakat
Baduy yang sampai sekarang masih mendiami wilayah hulu sungai Ciujung di Gunung
kendeng tersebut (Adimiharja, 2000).
SEJARAH
KABUPATEN BREBES
Ada beberapa pendapat mengenai asal - usul nama
"Brebes" yang di antaranya
berasal dari kata "Bara" dan "Basah", bara
berarti hamparan tanah luas dan basah berarti banyak
mengandung air. Keduanya cocok dengan keadaan daerah "Brebes" yang merupakan dataran luas yang berair. Karena
perkataan bara di ucapkan "bere" sedangkan basah di
ucapkan "besah" maka untuk mudahnya di ucapkan "Brebes". Dalam Bahasa Jawa perkataan "Brebes atau mrebes"
yang berarti tansah metu banyune yang berarti "Selalu keluar
airnya".
Nama "Brebes" muncul sejak zaman Mataram. Kota ini berderet dengan kota-kota tepi pantai lainnya seperti Pekalongan, Pemalang,
dan Tegal. Brebes pada
saat itu merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Tegal.
Pada tanggal 17
Januari 1678 di Jepara diadakan pertemuan
Adipati Kerajaan Mataram se-Jawa Tengah, termasuk Arya Martalaya, Adipati
Tegal dan Arya Martapura, Adipati Jepara. Karena tidak
setuju dengan acara penandatanganan naskah
kerjasama antara Amangkurat Admiral dengan Belanda terutama dalam menumpas pemberontakan Trunajaya dengan
imbalan tanah-tanah milik Kerajaan Mataram, maka terjadi perang tanding antara
kedua adipati tersebut. Peristiwa berdarah ini merupakan awal mula
terjadinya Kabupaten Brebes dengan Bupati berwenang.
Sehari setelah peristiwa berdarah tersebut
yaitu tanggal 18 Januari 1678, Sri Amangkurat II yang berada di Jepara mengangkat
beberapa Adipati / Bupati sebagai pengagganti Adipati-adipati yang gugur. Untuk
kabupaten Brebes di jadikan kabupaten mandiri dengan adipati
Arya Suralaya yang merupakan adik dari Arya Martalaya.
Pengangkatan Arya Suralaya sekaligus titimangsa pemecahan
Kadipaten Tegal menjadi dua bagian yaitu Timur tetap di sebut Kadipaten
Tegal dan bagian barat di sebut Kabupaten
Brebes.
Brebes Geografi
Kabupaten Brebes terletak di bagian Utara paling Barat
Provinsi Jawa Tengah, di antara koordinat 108° 41'37,7" -
109° 11'28,92" Bujur Timur dan 6° 44'56'5" - 7° 20'51,48 Lintang
Selatan dan berbatasan langsung dengan wilayah Provinsi Jawa
Barat. Penduduk Kabupaten Brebes mayoritas menggunakan bahasa Jawa yang yang
mempunyai ciri khas yang tidak dimiliki oleh daerah lain, biasanya disebut
dengan Bahasa Jawa Brebes. Namun terdapat Kenyataan pula bahwa sebagian penduduk
Kabupaten Brebes juga bertutur dalam bahasa Sunda dan banyak nama tempat yang
dinamai dengan bahasa Sunda menunjukan bahwa pada masa lalu wilayah ini adalah
bagian dari wilayah Sunda. Daerah yang masyarakatnya sebagian besar menggunakan
bahasa Sunda atau biasa disebut dengan Bahasa Sunda Brebes, adalah
meliputi Kecamatan Salem, Banjarharjo, Bantarkawung, dan sebagian
lagi ada di beberapa desa di Kecamatan Losari, Tanjung, Kersana,
Ketanggungan dan Larangan.
Berdasarkan naskah kuno primer Bujangga
Manik (yang menceriterakan perjalanan Prabu Bujangga Manik,
seorang pendeta Hindu Sunda yang mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di
pulau Jawa dan Bali pada awal abad ke-16), yang saat ini disimpan pada Perpustakaan
Boedlian, Oxford University, Inggris sejak tahun 1627, batas
Kerajaan Sunda di sebelah timur adalah Ci Pamali (sekarang
disebut sebagai Kali Brebes atau Kali Pemali yang
melintasi pusat kota Brebes) dan Ci Serayu (yang
saat ini disebut Kali Serayu) di Provinsi Jawa
Tengah.
Ibukota kabupaten Brebes terletak di bagian timur laut
wilayah kabupaten. Kota Brebes bersebelahan dengan Kota Tegal, sehingga kedua
kota ini dapat dikatakan "menyatu". Brebes
merupakan kabupaten yang cukup luas di Provinsi Jawa Tengah. Sebagian besar
wilayahnya adalah dataran rendah. Bagian barat daya merupakan dataran tinggi
(dengan puncaknya Gunung Pojok tiga dan Gunung Kumbang), sedangkan bagian
tenggara terdapat pegunungan yang merupakan bagian dari Gunung Slamet.
Dengan iklim tropis, curah hujan rata-rata 18,94
mm per bulan. Kondisi itu menjadikan kawasan tesebut sangat potensial
untuk pengembangan produk pertanian seperti tanaman padi,
hortikultura, perkebunan, perikanan, peternakan dan sebagainya.
ASAL USUL KOTA
BANDUNG
Alkisah pada zaman dahulu kala di tanah pasundan, di
pinggiran sungai Citarum hidup lah seorang kakek tua yang terkenal karena
memiliki ilmu sakti mandraguna. Disana Ia tinggal bersama anak perempuannya
yang cantik jelita, Sekar. Selain Sekar, Empu Wisesa memiliki 2 orang murid Jaka
dan Wira, Ia menemukan mereka ketika masih bayi di sebuah desa yang hancur
berantakan karena letusan gunung tangkuban perahu yang hingga saat itu lahar
nya masih sering membahayakan area sekitarnya. Ke dua bayi itu kemudian
dibawa pulang, dirawat dan diajarkan ilmu oleh Empu Wisesa.
Walaupun memiliki guru yang sama, Jaka dan Wira memiliki
perangai yang berbeda. Jaka berparas tampan, Ia senang bermain dan pandai
bercakap, walaupun pintar namun karena sifat nya yang menggampangkan sesuatu ia
jauh ketinggalan dari Wira yang rajin mencari ilmu dan hakikat hidup.Sifat yang
berbeda tersebut tidak membuat mereka berdua berjauhan, mereka seperti
dua orang saudara yang saling tolong dan berbagi rahasia. Namun ada satu hal
yang tak mereka ungkapkan satu sama lain, yaitu tentang perasaan mereka
terhadap Sekar, putri guru mereka.Jaka terlebih dahulu menyampaikan maksud hati
untuk melamar Sekar kepada Empu Wisesa, karena pandai mengambil hati guru nya,
Empu Wisesa tanpa meminta persetujuan anaknya langsung menyetujui lamaran
Jaka. Ia berfikir Sekar pasti juga menyukai Jaka yang rupawan dan pandai
bergaul.
Keesokan hari nya Empu Wisesa memanggil Sekar dan kemudian
menyampaikan keinginannya untuk menikahkan nya dengan Jaka. Sekar adalah anak
yang baik dan berbakti pada orang tua namun baru sekali inilah Sekar membantah
orang tuanya, ia menolak keinginan Empu Wisesa, ia mengatakan bahwa Ia
mencintai Wira dan hanya mau menikah dengan Wira.
Hal itu membuat
Empu Wisesa gundah, sebelumnya Ia sudah menjanjikannya pada Jaka. Agar adil ia
kemudian membuat sayembara.
“Baiklah, aku hanya
akan menikahkan Sekar dengan orang yang bisa memadamkan lahar panas Tangkuban
Perahu.” kata Empu Wisesa.
Jaka merasa itu
adalah hal yang mustahil, tidak mungkin memadamkan lahar panas yang telah ada
sejak berabad-abad yang lalu. Namun didepan Empu Wisesa dia menyanggupi nya dan
mengaku ingin mengembara mencari ilmu untuk memadamkan lahar. Ia hanya
berfoya-foya dan bahkan bermain wanita.
Sementara itu Wira,
berfikir keras mencari tahu bagaimana cara memenangkan sayembara itu.
Dengan tekun setiap hari ia mengitari cekungan luas yang terbentuk oleh lahar
panas tersebut, dia tahu hanya air yang bisa mengalahkan api, tapi dari mana
dia bisa mendapatkan air sebanyak itu. Setahun berlalu namun Ia belum
juga menemukan caranya hingga suatu hari dia melihat berang-berang yang sedang
membuat bendungan dari ranting-ranting pohon.
“Wah, bagaimana
kalau aku membendung sungai Citarum sehingga air nya bisa memadamkan lahar
panas” pikir nya dalam hati.
Dengan penuh perhitungan Wira mulai melaksanakan ide nya itu,
mula-mula Ia mengungsikan manusia dan hewan-hewan yang ada di cekungan lahar
tersebut agar tidak tenggelam oleh air. Kemudian berbekal kesaktian dari
Empu Wisesa, Ia meruntuhkan sebuah bukit dengan tangan nya,
sehingga tanah dan batuan membendung air sungai. Lama-kelamaan air mulai
menggenang, lahar panas menjadi dingin dan cekungan itu berubah menjadi danau
yang luas, orang-orang menyebut daerah itu “Danau Bandung”.
Setelah berhasil melewati ujian yang di berikan oleh Mpu
Wisesa, ia pun kemudian pulang dan melamar Sekar. Mpu Wisesa sangat senang,
murid nya terbukti sangat mencintai anak semata wayang nya, dan mencegah
bencana yang bisa muncul akibat lahar panas itu.
Tak
lama kemudian mereka pun mengadakan pesta pernikahan yang meriah, dihadiri oleh
semua penduduk disekitarnya. Jaka tidak ada kabar beritanya lagi.
Setelah bertahun-tahun Wira & Sekar dikaruniai banyak
anak dan cucu, sementara itu bendungan yang dibuat Wira mulai runtuh akibat
debit air yang tinggi. Lama-lama air di danau itu mulai mengering, tanah
nya menjadi subur dan gembur. Akhir nya mereka pun berpindah kesana, tak lupa
mengajak penduduk sekitar.
Lama kelamaan daerah itu menjadi ramai ditinggali dan
didatangi pengembara, karena danau nya sudah tidak lagi ada, mereka menyebut
nya Bandung. Menurut mitos nya penduduk asli kota Bandung berasal dari
keturunan Wira dan Sekar.
Begitulah Legenda fiktif Asal Mula Nama Kota Bandung, yang
berasal dari kata “bendung” atau “bendungan” yang dibuat oleh Wira untuk
memadamkan lahar panas Tangkuban Perahu.
Menurut
sejarah bendungan (Danau Bandung) itu seluas daerah antara Padalarang hingga
Cicalengka (± 30 km) dan daerah antara Gunung Tangkuban Parahu hingga Soreang
(± 50 km)
ASAL
USUL KOTA PURWOKERTO
Jika dilihat
dari belakang yaitu sejarah kota purwokerto ternyata perjuangan para pahlawan
kita sungguh sangat gigih dalam mempertahankan kota purwokerto. Yang dulu
terlihat sederhana tanpa lampu dan penerangan seperti terlihat di jaman modern
sekarang ini. Purwokerto merupakan salah satu kota yang sangat cepat dengan
berbagai pertumbuhan seperti jalan yang sudah sangat halus dan berbagai pertokoan
hingga perhotelan dan supermarket.
Terlepas
dari sejarah terbentuknya kabupaten banyumas. Sejarah dan perkembangan kota
purwokerto yang pernah mengecap sebagai kota administratif patut di ketahui
oleh warga kabupaten banyumas, meskipun akhirnya kembali menjadi kecamatan
kota. Perkembangan kota purwokerto sebagai ibukota kabupaten banyumas yang juga
ibukota eks karesidenan banyumas semakin bertambah pesat. Beberapa fasilitas
umum ditambah dan ditingkatkan [amin hidayat]
Purwokerto adalah ibukota kabupaten banyumas. Secara
geografis purwokerto berada di selatan gunung slamet, salah satu gunung berapi
yang masih aktif di pulau jawa, dan berada di koordinat 7°26′s 109°14′e. Selain
menjadi pusat pemerintahan, purwokerto juga menjadi pusat koordinasi daerah
jawa tengah bagian barat
Istilah kota dalam sumber-sumber sejarah kuno telah
dikenal dengan berbagai nama. Dalam kitab negara kertagama dan babad tanah
jawi, ditemukan istilah kota nagari atau negara yang artinya sama dengan kota.
Ini merupakan petunjuk adanya kota-kota di daerah pedalaman yang mempunyai
basis ekonomi pertanian. Sedangkan istilah purwokerto berasal dari kata purwo
yang artinya wiwitan atau asal mula, dan kerto yang artinya kemakmuran,
jadi purwokerto artinya asal mula dari kemakmuran.
Membahas tentang kota satria, banyak
yang beranggapan purwokerto jaman dahulu adalah bernama purwakerta
(poerwokerto). Kota purwakerta atau praketa adalah kota yang mulai di bangun
oleh pemerintah belanda semenjak di jadikan sebagai ibukota kabupaten adjibaran
(ajibarang), yang sebelumnya berada di adjibaran. Pemindahan ke kota purwakerta
dilakukan pada tahun 1836 setelah kota adjibaran terkena angin lisus selama 4o
hari 40 malam. Pada saat itu bupati di jabat oleh raden tumenggung bartadimeja
bergelar r adipati martadireja ii dan asisten residen werkevisser.
Pemerintah belanda membangun kota
purwakerta sedikit menjauh dari pusat kota purwakerta sebelumnya, yaitu di
pasar wage. Dimana menurut sugeng priyono pusat kota purwakerta dahulu berada
di pasar wage dan klenteng hok tik bio yang sekarang dahulunya adalah pendopo
kadipaten. Pembangunan pendopo kabupaten didirikan di paguwan (paguhan) dan rumah
kantor asisten residen (selalu berdekatan) berada di bantarsoka.
Purwakerta
pada rekaman visual tahun 1900-1930han, terdapat banyak sekali bangunan sangat
megah dan tentunya merupakan sebagai aspek-aspek pendukung kota yang lumayan
besar pada saat itu selai soekaradja (sokaraja). Bahkan pada awal abad 19
tersebut, dimana mengikuti kejayaan kerajaan belanda akan gula dan tembakau,
kota-kota di jawa pun mengalami kejayaan termasuk kota purwakerta.
ASAL USUL SURABAYA
Kota Surabaya adalah ibukota
Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Surabaya merupakan kota "terbesar"
kedua di Indonesia setelah Jakarta, dengan jumlah penduduk metropolisnya yang
mencapai 3 juta jiwa, Surabaya merupakan pusat bisnis, perdagangan, industri,
dan pendidikan di kawasan Indonesia timur. Surabaya terkenal dengan sebutan
Kota Pahlawan karena sejarahnya yang sangat diperhitungkan dalam perjuangan
merebut kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajah. Kata Surabaya konon berasal
dari cerita mitos pertempuran antara sura (ikan hiu) dan baya (buaya) dan
akhirnya menjadi kota Surabaya
Dahulu, di lautan luas sering
terjadi perkelahian antara Ikan Hiu Sura dengan Buaya. Mereka berkelahi hanya
karena berebut mangsa.Keduanya sama-sama kuat, sama-sama tangkas,sama-sama
cerdik, sama-sama ganas dan sama-sama rakus.Sudah berkali-kali mereka berkelahi
belum pernah ada yang menang atau pun yang kalah. akhirnya mereka mengadakan
kesepakatan.
"Aku bosan terus-menerus
berkelahi, Buaya," kata ikan Sura. "Aku juga, Sura.Apa yang harus
kita lakukan agar kita tidak lagi berkelahi?" tanya Buaya Ikan Hiu Sura
sudah punya rencana untuk menghentikan perkelahiannya dengan Buaya segera
menerangkan. "Untuk mencegah perkelahian di antara kita,sebaiknya kita
membagi daerah kekuasaan menjadi dua. Aku berkuasa sepenuhnya di dalam air dan
harus mencari mangsa di dalam air,sedangkan kamu barkuasa di daratan dan
mangsamu harus yang berada di daratan. Sebagai batas antara daratan dan air,
kita tentukan batasnya,yaitu tempat yang dicapai oleh air laut pada waktu
pasang surut!" "Baik aku setujui gagasanmu itu!" kata Buaya.
Dengan adanya pembagian wilayah
kekuasaan, maka tidak ada lagi perkelahian antara Sura dan Buaya. Keduanya
telah sepakat untuk menghormati wilayah masing-masing. Tetapi pada suatu
hari,Ikan Hiu Sura mencari mangsa di sungai. Hal ini dilakukan dengan
sembunyi-sembunyi agar Buaya tidak mengetahui. Mula-mula hal ini memang tidak
ketahuan. Tetapi pada suatu hari Buaya memergoki perbuatan Ikan Hiu Sura
ini.Tentu saja Buaya sangat marah melihat Hiu Sura melanggar janjinya.
"Hai Sura, mengapa kamu melanggar peraturan yang telah kita sepakati
berdua? Mengapa kamu berani memasuki sungai yang merupakan wilayah
kekuasaanku?" tanya Buaya.
Ikan Hiu Sura yang merasa tak
bersalah tenang-tenang saja. "Aku melanggar kesepakatan? Bukankah sungai
ini berair.Bukankah aku sudah bilang, bahwa aku adalah penguasa di air? Nah,
sungai ini 'kan ada airnya, jadi juga termasuk daerah kekuasaanku, " Kata
Ikan Hiu Sura. "Apa? Sungai itu 'kan tempatnya di darat, sedang daerah kekuasaanmu
ada di laut, berarti sungai itu adalah darerah kekuasaanku!" Buaya ngotot.
"Tidak bisa. Aku 'kan tidak pernah bilang kalau di air itu hanya air laut,
tetapi juga airsungai" jawab Hiu Sura? "Kau sengaja mencari
gara-gara,Sura?" "Tidak! kukira alasanku cukup kuat dan aku memang
dipihak yang benar!" kata Sura. "Kau sengaja mengakaliku.Aku tidak
sebodoh yang kau kira!" kata Buaya mulai ,marah. "Aku tidak perduli
kau bodoh atau pintar, yang penting air sungai dan air laut adalah
kekuasaanku!" Sura tak mau kalah. Karena tidak ada yang mau mengalah, maka
pertempuran sengit antara Ikan Hiu Sura dan Buaya terjadi lagi.
Pertarungan kali ini semakin seru
dan dahsyat. Saling menerjang dan menerkam, saling menggigit dan memukul. Dalam
waktu sekejap, air disekitarnya menjadi merah oleh darah yang keluar dari
luka-luka kedua binatang tersebut. Mereka terus bertarung mati-matian tanpa
istirahat sama sekali. Dalam pertarungan dahsyat ini, Buaya mendapat gigitan
Hiu Sura di pangkal ekornya sebelah kanan. Selanjutnya, ekornya itu terpaksa
selalu membengkok kekiri. Sementara ikan Sura juga tergigit ekornya hingga
hampir putus, lalu ikan Sura kembali ke lautan. Buaya puas telah dapat
mempertahankan daerahnya.
Pertarungan antara ikan Hiu yang
bernama Sura dan Buaya ini sangat berkesan di hati masyarakat Surabaya. Oleh
karena itu,nama Surabaya selalu dikait-kaitkan dengan peristiwa ini. Dari
peritiwa inilah kemudian dibuat lambang Kota Surabaya yaitu gambar "ikan
sura dan buaya".
Namun ada juga sebahagian
berpendapat, asal usul Surabaya berasal dari kata Sura dan Baya. Sura berarti
Jaya atau selamat. Baya berarti bahaya, jadi Surabaya berarti "selamat
menghadapi bahaya". Bahaya yang dimaksud adalah serangan tentara Tar-tar
yang hendak menghukum Raja Jawa.Seharusnya yang dihukum adalah Kartanegara,
karena Kartanegara sudah tewas terbunuh, maka Jayakatwang yang diserbu oleh
tentara Tar-tar itu. Setelah mengalahkan Jayakatwang, orang Tar-tar itu
merampas harta benda dan puluhan gadis-gadis cantik untuk dibawa keTiongkok.
Raden Wijaya tidak terima diperlakukan seperti itu. Dengan siasat yang jitu,
Raden Wijaya menyerang tentara Tar-tar di pelabuhan Ujung Galuh hingga mereka
menyingkir kembali ke Tiongkok. Selanjutnya, dari hari peristiwa kemenangan
Raden Wijaya inilah ditetapkan sebagai hari jadi Kota Surabaya.
Surabaya sepertinya sudah
ditakdirkan untuk terus baergolak.Tanggal 10 November 1945 adalah bukti jati
diri warga Surabaya yaitu berani menghadapi bahaya serangan Inggris dan
Belanda. Di zaman sekarang, setelah ratusan tahun dari cerita asal usul
Surabaya tersebut, ternyata pertarungan memperebutkan wilayah air dan darat
terus berlanjut. Di kalamusim penghujan tiba kadangkala banjir menguasai kota
Surabaya. Pada musim kemarau kadangkala tempat-tempat genangan air menjadi daratan
kering. Itulah Surabaya.
Komentar
Posting Komentar