JENIS-JENIS PUISI LAMA
1. Syair
Contoh:
Hidup
di bumi sementara
Hidup di Sana selamanya
Ingatlah wahai kawan semua
Janganlah sampai engkau terlupa
Hidup di Sana selamanya
Ingatlah wahai kawan semua
Janganlah sampai engkau terlupa
2. Pantun
Contoh
Pantun nasehat
Ke Jakarta
mampir Tegal
Bersama kasih
bersenang-senang
Janganlah sampai
kita menyesal
Ingat hidup tak
sembahyang
Lihat gelembung
meletup-letup
Kalau pecah jadi
melekat
Perbanyaklah
ilmu saat kau hidup
Untuk bekal kau
di akhirat
3. Seloka.
Contoh :
Jalan-jalan ke
kota batik
Naik motor milik
si Aan
Jikalau engkau
berkendara dengan baik
Supaya selamat
sampai tujuan
Naik motor milik
si Aan
Siang-siang kena
panas
Supaya selamat
sampat tujuan
Taatilah lalu
lintas
Siang-siang kena
panas
Pakai payung
tutup kepala
Taatilah lalu
lintas
Agar berkah bagi
semua
4. Gurindam
Contoh:
Ketika muda
malas sembahyang
Masa tua bisa
terguncang
Siapa tidak
hormat orang tua
Akan jauh dari
bau surga
Kalaulah engkau
banyak tidur
Banyak rezeki
jadi terkubur
Jika suami
berhati kufur
Keluarga idaman
pasti terkubur
5. Karmina
Contoh:
Dahulu beras
sekarang ketupat
Orang pemerat
tersiksa si akhirat
Buah durian
tajam berduri
Baca Al Quran
tenangkan hati
Ikan salem beli
di pasar
Pipi tembem
buatku gusar
Pergi ke laut
asin airnya
Nyali menciut
sebab dia menyapa
6. Mantra
Contoh:
Mantra yang
biasa digunakan untuk meminta kekuatan
Bismillahirrahmanirrohim
Hai besi
bangunlah engkau si rajabesi
Yang bernama si
ganda bisa
Engkau duduk di
kepala jantungku
Bersandar di
tiang arasy
Kuminta
tinggalkan insanku
Kuminta rendah
insan sekalian
Berkat aku
memakai wujud kodrat sayyidina ali
Bujur lalu
melintang patah
Lalu juga
kehendak Allah
Berkat lailaha
illallah
Muhammadarrasulullah
Mantra untuk
mengusir roh halus
Sihir lontar
pinang lontar
terletak diujung
bumi
Setan buta
jembalang buta
aku sapa tidak
berbunyi
7. Talibun
Contoh:
Talibun 6 baris
Penat sudah daku
mendaki
Puncak tiada
lagi terlihat
Bulan pun tak
lagi ada
Penat sudah daku
mendaki
Hati sudah tiada
lagi kuat
Melihat engkau
tak lagi nyata
Jenis jenis
puisibaru
JENIS-JENIS PUISI BARU
1. Balada
Senja di
Pelabuhan Kecil
Karya: Chairil Anwar
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut,
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut.
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah, air tidur, hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.
Karya: Chairil Anwar
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut,
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut.
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah, air tidur, hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.
2. Himne
Doa
Karya:
Chairil Anwar
kepada
pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Tuhanku
Dalam termangu
Aku
masih menyebut nama-Mu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
caya-Mu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
caya-Mu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk
aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintu-Mu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintu-Mu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
3. Ode
Generasi
Sekarang
Karya:
Asmara Hadi
Generasi
Sekarang
Di atas puncak gunung fantasi
Berdiri aku, dan dari sana
Mandang ke bawah, ke tempat berjuang
Generasi sekarang di panjang masa
Menciptakan kemegahan baru
Pantoen keindahan Indonesia
Yang jadi kenang-kenangan
Pada zaman dalam dunia
Di atas puncak gunung fantasi
Berdiri aku, dan dari sana
Mandang ke bawah, ke tempat berjuang
Generasi sekarang di panjang masa
Menciptakan kemegahan baru
Pantoen keindahan Indonesia
Yang jadi kenang-kenangan
Pada zaman dalam dunia
4. Epigram
Pagi
Karya: Chairil Anwar
Karya: Chairil Anwar
jangan
biarkan sekuntum bunga itu
layu sebelum matahari membelainya
dengan menggemakan semburat jingga
ultra dalam irama nuansa cinta-semesta
layu sebelum matahari membelainya
dengan menggemakan semburat jingga
ultra dalam irama nuansa cinta-semesta
lihatlah bagaimana alam begitu perkasa
memainkan peran-Nya
dalam rindu-dendam yang terbungkus
kasih sayang memberi semburat
makna seribu pesona
memainkan peran-Nya
dalam rindu-dendam yang terbungkus
kasih sayang memberi semburat
makna seribu pesona
5. Romansa
BELUM TERBAYANG
Hanya aku dan
awang-awangku
Kulihat tiada batas indah cerlangmu
Lalu kusebut ini sebagai seumpama
Menggores air mata, melepas segala dendam
Kulihat tiada batas indah cerlangmu
Lalu kusebut ini sebagai seumpama
Menggores air mata, melepas segala dendam
Kejarlah daku sekuat
kau bisa
Karena aku takkan berhenti memikul lara
Memekik telingaku dengan segala rintihan kata
Aku buta diatas segala warna-warni cinta
Karena aku takkan berhenti memikul lara
Memekik telingaku dengan segala rintihan kata
Aku buta diatas segala warna-warni cinta
Akupun mengampunimu
diantara hitam aksara asmara
Lalu kau merajutku bagai benang bertinta-tinta
Muncul di permukaan rindu yang semakin mengesankan
Sementara cinta meluap bagai kecupan mawar
Lalu kau merajutku bagai benang bertinta-tinta
Muncul di permukaan rindu yang semakin mengesankan
Sementara cinta meluap bagai kecupan mawar
6. Elegi
Derai-Derai
Cemara¹
Karya: Chairil Anwar
Karya: Chairil Anwar
cemara menderai sampai
jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam
aku orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan lagi
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan lagi
hidup hanyalah menunda
kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tak diucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tak diucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah
7. Satire
KEPADA PARA PEMULUNG DESAKU
Oleh : Malik Abdul
Oleh : Malik Abdul
Desaku
terpencil di sudut sungai yang sepi
Masyarakat hidup pas-pasan tetapi penuh gaya
Seakan tak mau kalah dengan kemajuan kota
Mereka tak tahu apa itu halal
Masyarakat hidup pas-pasan tetapi penuh gaya
Seakan tak mau kalah dengan kemajuan kota
Mereka tak tahu apa itu halal
Mereka tak
tahu apa itu haram
Sambil menyelam minum air
Sambil memulung mereka mencuri
Sambil mencuri mereka menari
Sambil menari mereka mengotori diri
Sambil menyelam minum air
Sambil memulung mereka mencuri
Sambil mencuri mereka menari
Sambil menari mereka mengotori diri
Tiada satu pun cita-cita yang mulia diantara mereka
Karena mereka tiada mengenalnya
Ajaran agama pun tidak mereka anggap benar
Lantas siapakah yang harus berbenah
Para kiyai kah?
Atau mereka?
Karena mereka tiada mengenalnya
Ajaran agama pun tidak mereka anggap benar
Lantas siapakah yang harus berbenah
Para kiyai kah?
Atau mereka?
Komentar
Posting Komentar